ra kartini

Indonesia dan Gender

 

Tapi kenapa yang kemudian terkisah adalah hal-hal yang bersifat kasuistik? Tak sama sekali saya dengar telaah mendalam mengenai jender, atau analisis struktur kekuasaan yang dari sana perempuan menjadi korban? Bagian terbesar dari orang-orang yang hadir memang perempuan. Tapi lucu juga kalau itu yang jadi persoalan utama sehingga semua tergopoh-gopoh memberi kesaksian.

Fakta Jawaban KH Sholeh Darat atas Kegelisahan Kartini

Oleh : M. Rikza Chamami

Kisah tentang bagaimana KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) melukiskan sosok Raden Ajeng Kartini dalam Kitab Tafsir Faidlur Rahman masih selalu menjadi pertanyaan. Apakah itu hanya sebuah sejarah lisan yang tidak dapat dibuktikan? Ternyata fakta ini mulai nyata dan dapat dilacak dari karya Mbah Sholeh Darat.

Surat Kartini Yang Membuat Saya Merinding, Sebuah Renungan di Hari Kartini

Oleh : Tjiptadinata Effendi

Surat Kartini yang Membuat Saya Merinding (Sebuah Renungan di Hari Kartini)

 Pagi ini, saya mencoba membaca surat-surat Kartini, sebagai rasa hormat terhadap sosok wanita yang menjadi panutan kaum wanita. Tidak hanya bagi wanita yang terlahir di Pulau Jawa, tetapi juga oleh kaum wanita diseluruh Nusantara.

Tiba tiba mata saya bagaikan terpaku, membaca salah satu surat Kartini. Saya tidak tahu apakah diterjemahkan secara keliru dari bahasa Belanda atau memang tulisan ini aslinya dalam bahasa Indonesia?

Santriwati Nusantara itu Bernama RA Kartini

Oleh:  M. Rikza Chamami

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini yang dilahirkan dalam lingkaran keluarga pejabat pemerintah Belanda di Jepara.

Kartini bukan manusia biasa, tapi dirinya menyebut sebagai manusia biasa dengan menyebut "panggil aku Kartini saja" dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar. Kartini juga mengungkapkan pada Stella bahwa dirinya "manusia biasa, wanita Jawa dalam tembok tradisi yang kukuh".

Pages