prabowo kalah

Tangisan Itu

Mungkin tidak ada tangisan yang lebih sia-sia dari tangisan itu. Prabowo sendiri biasa saja. Mungkin bukan karena jiwa sportifitasnya juga. Ia biasa saja, sebab memang terbiasa kalah dalam pertandingan. Bagi Prabowo yang namanya menang adalah sebuah kemewahan.

Jadi jerit tangis itu seperti orang isi bensin, tangki motornya digoyang-goyangkan. Sebuah perbuatan yang sia-sia. Kalau dia isi seliter, dengan menggoyangkan tangki, tetap saja masuknya seliter juga. Gak akan berubah jadi tiga liter.

Gugatan MK Hanya Menunda Kekalahan

Ratna Sarumpaet berusaha melawan kekalahan usia. Ia mereparasi wajahnya. Tapi sehebat apapun dokter kecantikan, mereka toh, tidak ada yang sanggup menghentikan jarum jam. Usia adalah usia. Penampilan lain lagi.

Karena itu nasihat yang baik hari-hari belakangan ini adalah tentang kesiapan orang menerima kekalahan. Sebab, seperti kata Chairil, itulah sesungguhnya kehidupan.

Bagaimana jika ada orang yang tidak siap kalah?

Detik-Detik Terakhir Prabowo

Sementara hasil situng quickly realcount yang diposting di web KPU dan hasil real-count (baru sekitar 50%), tetap konsisten tak beda jauh dengan hasil quick-count beberapa lembaga survey.

Narasi yang dibangun mati-matian bahwa "KPU Curang", kayaknya bakal jadi sekoci yang menyelamatkan kubu Prabowo. Setidaknya, jika akhirnya data dan fakta menunjukkan bahwa Pilpres 2019 dimenangkan oleh Jokowi, mereka bisa berkilah, itu karena KPU, bahkan kubu Jokowi curang.

Gerombolan Licik

Taktik memfitnah dan menyebar hoaks terus dilakukan. Tidak tanggung-tanggung. Katanya real count, tapi ditanya dimana melakukan rekapitulasi, jawabannya ngeles. Katanya berpindah-pindah. Dipikirnya semua orang bodoh. Angka kemenangan pada hari pertama disebut 55%, malamya naik 62%, lalu sekarang naik lagi 80% saat deklarasi kemenangan di TMII. Sesuka-suka mereka. 

Prabowo Semakin Ditinggalkan

Yang masih rajin dan kerja keras jadi bumper Prabowo, di samping Dahniel Anzhar Simanjuntak, Andre Rosiade, Fadli Zon dan Hasjim Djojohadikusumo, tentunya adalah Amien Rais serta Eggy Sudjana, dengan gerbong PA212 seperti Slamet Ma’arif, Al Khathath, Tengku Zulkarnaen, Yusuf Martak, beberapa orang HTI, dan tentu FPI beserta Rizieq Shihab, yang masih setia nunggu jemputan.

Pages