Pilkada Solo
Kenapa Gibran?
Gibran dan Boby adalah anak dan mantu yg mau mengikuti jejak sang ayah, Pak Jokowi boleh dikatakan adalah pemimpin Indonesia yg paling penomenal, dari dirinyalah anak dan mantunya melihat harus berbuat agar kebaikan mengurus rakyat yg sdh diberi contoh tdk berhenti hanya pada Pak Jokowi, mereka harus meneruskan apa yg sudah dicontohkan, jangan di balik seolah mereka mengambil kesempatan, menjadi penerus Jokowi tak mudah, salah-salah di hadiahi sumpah serapah. Sedikit saja salah akan jadi lahan cacian dari orang ceriwis yg yg tak pernah logis.
Anak SBY, Ponakan Prabowo juga Nyalon, Kenapa Cuma Gibran yang Dinyinyirin?
Kecewa pada Jokowi dan Gibran?
Kalau Gibran Tidak Maju, Yakin Rela Dipimpin Purnomo?
Rekomendasi Gibran, Trend Orang Muda Memimpin dan Angin Segar Pembangunan Indonesia
Selama ini dalam masa tunggu rekomendasi, Gibran tampil kalem. Kalau ditanya dia selalu menyatakan bahwa rekomendasi akan turun pada sosok yang tepat. Alih-alih bvanyak biocara ke media, dia pilih blusukan ke sudut-sudut kampung di Solo, bersilaturahmi langsung dengan masyarakat dan menunjukkan empati yang dalam terhadap warga Solo yang terdampak pandemic Covid-19. Bantuan mengalir kepada masyarakat baik berupa sembako, masker, penyemprotan disinfektan, APD, hingga ambulans gratis.
Gibran Semakin di Depan
Gibran
Saat dia keluar, saya pun beranjak. Terjadilah pertemuan yang seolah tak disengaja seperti adegan film “Hitch”. Saya menyapa. Eh dia balas dengan senyum ramah. Kesan bahwa Gibran itu pendiam, cuek, apalagi sombong, benar-benar tidak ada. Saya gunakan kesempatan itu baik-baik. Saya kenalkan diri. Dia sudah tahu saya atau pura-pura tahu biar saya tidak isin. Entahlah.
Gibran, Paundra dan Politik Dinasti
Kontroversi pencalonan Mas Gibran menyeruak. Namanya kontroversi, ada yang kontra, tak sedikit pula yang mendukung. Kalangan anak muda Solo yang telah beberapa lama menunggu tampilnya kaum muda untuk tampil dalam kancah kepemimpinan, mendapat angin segar. Komunitas yang Muda Visioner sudah beberapa kali menjaring anak muda melalui sejumlah diskusi untuk memunculkan calon walikota dari kalangan mereka.
GIbran dan Peluangnya di Solo
Mendelegitimasi atau mengendors itu khas pengamat partisan. Apalagi dengan preferensi tertentu, menghakimi calon. Di situ amatan menjadi sering tidak adil, di samping tidak jujur.
Politik dinasti karena hanya melihat sisi seseorang adalah anak seseorang. Tak melihat bagaimana prosedur, sistem dan mekanisme semua itu berdasar aturan demokrasi. Dalam sistem demokrasi, tidak sebagaimana kerajaan atau pesantren.










