Paranoid

Prabu Kertanegara yang Paranoid

Prabu Kertanegara, disebut penguasa Jawa pertama yang berambisi menyatukan Nusantara. Dalam ekspedisi Pamalayu, yang bertujuan menaklukkan kerajaan-kerajaan Sumatera, Kertanegara bermaksud menghadang pengaruh Mongol waktu itu. Baru pada Pilpres 2019 kemarin, suara Sumatera dikuasai Prabowo, dengan isu anti asing dan aseng yang sudah dideklarasikan sejak Kertanegara. Bener begitu? Hoax sih kalimat terakhir ini.

Perempuan Bercadar

Ilustrasi

Bercadar itu baik, tidak ada larangan dalam islam, tapi jika sudah bercadar dan merasa diri paling baik, paling suci, dan menganggap muslimah non cadar islamnya tidak kaffah, menganggap non muslim berpakaian terbuka sebagai pelacur, itu sangat tidak baik, bukan salah cadarnya, ia hanya selembar kain, yang salah adalah caramu berguru pada orang yang merasa tauhidnya paling murni, islamnya paling kaffah, dan menganggap orang lain sesat, neraka dan antek kafir, pemahaman seperti itu yang salah.

Agama Kaum Paranoid

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Apa agama sebuah mall? Kita tidak tahu.

Jika lebaran, mall menghias diri dengan hiasan ketupat, pohon kurma palsu, ornamen timur tengah dan musik kasidahan. Para pegawai pusat perbelanjaan biasanya memakai peci, baju koko, dan berkerudung.

Saat imlek, mall-mall dihiasi dengan lampion palsu. Warna merah terang dan pohon angpao juga terlihat.

Nah, ketika saat ini menyambut Natal, mall juga menghias dirinya. Biasanya ada pohon cemara berlampu kelap-kelip, dibumbui kapas menggantikan salju.

Hentikan Paranoid, Rusunawa Masih Lebih Pelik Ketimbang Palu Arit

Ilustrasi

Oleh Ryo Kusumo

Sebuah negeri yang paranoid, ya Indonesia. Negeri yang secara demografi cocokologi berada dalam zona rentan bahaya laten “ke-baperan” dan “ke-sensitifan”, baru beberapa waktu yang lalu ketika tulisan soal cadar muncul akibat keresahan mengenai persoalan tutup aurat yang begitu sensitif, hingga menimbulkan polemik paranoia terorisme, lalu HTI, dan yang paling cetar membahana ya tentu paranoia terhadap WNI keturunan untuk calon Gubernur DKI.

Lebih Asyik Bicarakan Mantan Daripada PKI

Ilustrasi

Oleh Ryo Kusumo

“Sejarah ditulis oleh Pemenang”

Itulah yang terjadi di Indonesia ketika kami-kami ini yang dulu masih duduk manis di sekolah dasar, harus bersiap sambil bawa cemilan untuk bergadang malam setiap tanggal 30 September tiba, itulah previlege kami sebagai anak kecil, yang dilarang keras nonton "adegan berdarah" oleh bapak ibu kami, bahkan film Barry Prima sekalipun. Tapi soal film G30S, justru kami di wajibkan memelototi satu persatu pisau "gerwani" dalam mengiris para Jenderal yang ditangkap. Ah, adegan berdarah yang mengasyikan dulu.

Pages