Panglima TNI

Panglima TNI Meninjau Sarang Petarung (Marinir) di Karangpilang

Pasmar 2 yang dikunjungi adalah satu diantara 3 Pasmar di bawah Komandan Korps Marinir. Pasmar 1 dislokasi di Jakarta dan Pasmar 3 di Sorong. Korps Marinir TNI Angkatan Laut atau (Kormar) adalah salah satu Komando Utama (Kotama) TNI Angkatan Laut. Dalam struktur organisasi TNI AL, Korps Marinir adalah sebuah Kotams yang sejajar dengan Kotama lain di TNI AL. Dari letak geografis, mengingat luasnya wilayah laut, peran Marinir menjadi sangat besar. Kostrad dan Marinir adalah dua tumpuan kekuatan tempur TNI dalam operasi Linud dan amfibi. 

Tidak Percaya pada Panglima TNI dan Kapolri Itu Keliru

Kalau beberapa negara Pasifik Selatan penganut Melanesian Brotherhood itu hanya ikutan memanfaatkan momentum, dipikir pesta dimulai. Juga Om Benny yg parkir ongkang2 di Eropa hanya menunggu dengan harap2 cemas keputusan principle. Yaitu siapa yg mampu memerintahkan pasukan PBB dan mengagendakan Sidang PBB. Kita semua faham, hanya AS.

Cara Cerdas Jend Mulyono "Menaklukkan" Ustadz Abdul Somad

Ilustrasi

Mereka ingin Somad terus menerus "kencang". Seperti komentar Somad soal bom bunuh diri. Soal calon muslim dan non muslim di Pilkada laksana gulai kentang tapi dagingnya anjing. Atau semburan somad yang bilang minum seterbak masuk neraka.Sama nasibnya dengan mereka yang doyan drama Korea.

Panglima TNI : Santri Memiliki Andil Besar dalam Perjuangan Kemerdekaan RI

Ilustrasi

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menuturkan bahwa melalui silahturahmi dengan keluarga besar Pagar Nusa di Kabupaten Cirebon, menjadi kesempatan yang baik untuk dijadikan sebagai momentum kebersamaan dalam rangka meluruskan niat dan menguatkan ikhtiar demi melanjutkan pengabdian dan dharma bhakti yang terbaik kepada NKRI, serta bersama-sama dalam upaya menegakkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Membaca Manuver Politik Nurmantyo

Ilustrasi

Belajar dari pengalaman Pilkada DKI 2017. Terlalu mahal ongkos sosial yang harus kita bayar. Kegaduhan, kebencian, perpecahan dsb. Sampai-sampai kita juga harus "mengorbankan" salah satu putra terbaik bangsa yang telah membawa Jakarta lebih baik, hanya karena isu SARA dalam Politik Identitas. Bayangkan jika hal yang sama terjadi dalam skala nasional. Padahal Jakarta yang masyarakatnya relatif rasional dan terdidik, dampak "kerusakannya" begitu terasa.

Pages