Meiliana
Ribut Soal Toa, Kalian Ini Picik Apa Bego?
Tuhan, Islamkah Aku?
Gara-gara tulisan itu, Alhamdulillah saya mendapat bonus dari sebagian orang yang kebetulan seiman dengan saya dengan cap yang menarik :
- Saya dianggap terlalu berpihak ke minoritas
- Mereka meragukan keislaman saya
- Saya dikira berpura-pura jadi Muslim
Bahkan ada yang menyebut saya komunis dan nama hewan yang super lucu.
Aku ora opo-opo !!!
Nangis Getih
Membunyikan toa/sound system dengan volume yang bisa memekakkan telinga tetangga adalah hal yang perlu dihentikan, bahkan ketika alat itu melantunkan sesuatu yang suci sekalipun.
Kesucian, bagiku, menuntut seseorang agar lebih sensitif dalam menjalankannya. Kesucian harus dilakukan dengan cara suci, termasuk tidak merugikan orang lain. Jika selama ini tidak ada yang protes, tidak berarti volume memekakkan telinga menjadi benar adanya.
Pernyataan Anggota Tim Penasihan Hukum Meiliana, Bikin Nyesek
Tanggal 22 Juli 2016,
ibu Meliana belanja ke tetangganya, lazimnya ibu-ibu belanja, curhat kepada pemilik warung (hanya mereka berdua), "kak, sekarang suara mesjid agak keras ya, dulu tidak begitu keras", pemilik warung yang jadi saksi dipersidangan tersebut juga mengakui bahwa itulah yang diucapkan Meliana.
#SayaBersamaMeiliana. Renungan Ied tentang berkurban.
Menurut Anda, mana yang berdasarkan Pasal 156a KUHP “Barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia”, melakukan tindakan yang perlu diusut secara hukum: ibu saya, Meiliana, atau perusak kelenteng dan vihara?






