dai
Insyaf
Partainya pun keok, jeblok tak dapat suara. Singkatnya : kalah!!!
Namun Beliau pandai membaca situasi, tidak ngotot mau menang melulu apapun caranya. Beliau tidak punya potongan berpolitik macam itu. Beliau tidak permah berpikir bahwa politik dan kekuasaan adalah jalan satu-satunya menuju kemenangan.
Mudahnya Mengaku Ulama
Kategorisasi Ulama
Ada 2 kategori ulama ditinjau dari fokus bahasannya.
1. Ulama Zahir, yaitu ulama yang menguasai ilmu syariah, mereka menganggap penting hal-hal yang berkaitan dengan tingkah laku, seperti makan dengan 3 jari,memelihara jenggot dan memakai celana cingkrang, kalau tidak memilih pemimpin muslim masuk neraka da banyak hal-hal yang menakutkan lain..
Ustad-Ustadz Palsu
Belakangan banyak orang yang muncul dengan dalil itu. Orang-orang yang melihat agama sebagai bisnis yang sangat menggiurkan. Sekarang banyak orang yang rindu pada ilahi, dan itu adalah segmen pasar yang bagus.
Berbekal satu dua ayat hasil googling, tinggal tambah gelar ustadz di depan nama, dan cringg! Duit pun mengalir.
Bebenah Dakwah
Hati-Hati Dengan Para Dai yang Ceramah Dengan Teriak
Aneh Jika Anda Menempatkan Felix Siaw dan Irene Handoko Sebagai Dai
Pun tumbuhnya media social memudahkan kita mencari ulama yang punya kapasitas keilmuan mumpuni untuk belajar langsung. Sebagai awam, bukan tempat kita mencoba membaca terjemahan Al Qur;an dan kemudian berusaha menerapkannya tanpa bimbingan Ulama yang bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya. Ada ribuan Ulama NU yang mempelajari agama belasan bahkan puluhan tahun, tidak hanya dalam negeri namun hingga keluar negeri.
Hati-Hati Pada Ulama Yang Dikit-Dikit Ndalil
Mereka tahu mayoritas umat Islam di Indonesia memang kurang dalam pemahaman atas Al Qur’an dan Hadits. Mengapa? Jelas karena bahasa yang digunakan adalah bahasa dimana Islam diturunkan. Oleh para Ulama-ulama NU, apa yang ada dalam Al Qur’an dan Hadits serta kitab-kitab sudah diolah dan disampaikan secara sederhana. Sehingga masyarakat awam tinggal menjalankan saja. Mengapa begitu?










