Berita
Hoax Dan Fanatisme Meruntuhkan Kemanusiaan
Psikologi Orang-Orang Kalah
Para kesayangan..
Kamu yang hari ini masih saja mengaum penuh luka. Karena proses pemilu yang katanya curang. Ayolah cari referensi yang lebih terpercaya. Dari tokoh-tokoh yang sudah teruji kredibilitasnya. Dari lembaga resmi yang berwenang. Kalau pun ada kecurangan, cukup sodorkan bukti. Agar bisa berakhir di Mahkamah Konstitusi. Ditangan pihak yang jauh lebih paham dari kita-kita ini.
Hati-Hati Dengan Cerita Hoax Yang Kamu Dapatkan
Jangan Cuma Share Judul Doang
Sudahlah, hayati Lelah!
Masa setiap hari harus mengingatkan, "Mohon jika share berita, jangan lupa sertakan link sumbernya. Jangan hanya capture judul saja. Kami tidak mau makan judulnya mentah-mentah. Sedangkan bagian terpenting dalam berita ada di isi, bukan di judul. Anggaplah judul hanya sebagai pelengkap dan pemanis saja"
Sabaaar...sabaaar!
Mana Aksimu Bawaslu Soal Hoax 7 Juta Surat Suara Tercoblos
Lagipula siapa yang peduli. Di tahun politik, publik demam politik partisan. Hoax memang membuat keruh, tapi target kekeruhan ini adalah supaya JAGOANNYA MENANG. Dan memang selamanya perhatian publik bukan soal penegakan keadilan. Tak ada yang menuntut edukasi, moralitas dan akhlak politik. Tak ada yang menghendaki jalan sepi, yang lurus.
Hati-hati Hoax Penculikan Anak
Tapi ada yang lebih parah. Orang yang dituduh penculik, sudah ada yang dihakimi massa sampai meninggal. Padahal ia sedang mau antar beras ke rumah anaknya. Itu terjadi di sebuah desa di Kalimantan Barat. Di Brebes, ada juga yang dikeroyok hingga luka berat. Belum lagi banyak orang dengan gangguan jiwa yang juga di aniaya masyarakat yang termakan hoaks itu.
Peta Para Penebar Hoax
Komodifikasi Ketakutan Di Media
Pelaku Hoax Perlu Periksa Kejiwaan
Perilaku ini kemudian berimbas ketika masyarakat bertransformasi ke dalam Network society. Segala informasi yg berseliweran di linimasa dibaca dan dipercaya bgt saja tanpa melihat faktualitas informasi dan validitas sumber, yg penting sesuai dgn apa yg ingin dipercayanya. Fenomena ini disebut selective exposure. Anda hanya ingin percaya pd informasi yg sesuai dgn perspektif anda tdk peduli informasi itu salah.










