Oleh : Gunadi
Dibanding ilmu agama, ilmu yg paling “jujur” itu adalah matematika. Siapapun yg ngajar harus ikut pakem keIlmuan : 1+1=2, 2×3=6. Kalau ada yg gak jujur ngajar lgs ketauan ngawurnya. Tapi bicara soal ilmu agama, tak akan ada habisnya, kita sendiri yg bs menarik kesimpulan secara logika dan umum, krn di luar sana bgt bnyk ahli2 yg beda kepala beda otak dan pemikiran, dgn segala dalil beraneka rupa dan ragam yg justru kadang menyesatkan mrk yg ingin belajar.
Pada hakekatnya manusia terlahir dipenuhi oleh kebaikan, apapun latar belakangnya. Namun menempatkan kebenaran & kebaikan jg hrs berdasarkan logika sehat sebab banyak kebaikan maupun kebenaran justru sengaja diciptakan sebagai pembenaran utk membungkus suatu kejahatan. Apa diucapkan justru berbanding dgn apa yg dilakukan, tapi sering dimaklumi hanya krn yg mengucapkan gelarnya tokoh agama.
Padahal sesama manusia itu sama derajatnya di mata Allah Swt, yg membedakan amal & ibadahnya. Ada yg ceramah, jelas2 di belakangnya tulisan spanduk gede2 : TIRU LAH AKHLAK BAGINDA NABI SAW, tp yg ceramah isinya cuma maki2, itu kan kontradisi namanya. Kenapa Nabi Muhammad SAW tdk mau digambar wajahnya?
“Karena dikhawatirkan akan memunculkan pengultusan dan pemujaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Selain itu, visualisasi figur Rasulullah SAW, dikhawatirkan tidak akan mempu menggambarkan pribadi dan figur Rasulullah SAW yang sesungguhnya,” kata Prof M Quraish Shihab suatu ketika. Tapi faktanya skrg, justru banyak ulama2 yg “mengendorse” dirinya sendiri dgn memajang wajahnya di baliho? Itu sejalan nggak sm ajaran nabi? Di situ perlunya berlogika dlm beragama.Wallahualam Bishawab.
Sumber : Status Facebook Gunadi











Comment