Oleh : Ahmad Sarwat
Ulama Multi Disiplin Ilmu
Kenapa di masa kini sulit melahirkan para ulama yang multi disiplin ilmu?
Tanpa bermaksud merendahkan ilmu para ulama di masa lalu, harus dipahami bahwa setiap cabang ilmu semakin kesini semakin dalam dan luas pembahasannya.
Dan pastinya semakin rumit, sehingga semakin dibutuhkan spesialisasi yang fokus hanya pada satu cabang ilmu itu saja.
Tapi karena semakin dalam lagi, sebuah cabang ilmu kemudian terpecah lagi menjadi beberapa sub cabang yang butuh spesialisasi tersendiri.
Maka sebuah cabang ilmu yang awalnya seperti seorang bujangan, lalu beranak pinak, punya anak, lalu punya cucu dan seterusnya punya cicit. Cicitnya itu kemudian punya keluarga dan melahirkan anak-anak lagi. Dan begitu seterusnya.
Misal sederhana, dahulu banyak sekali ulama ahli fiqih sekaligus juga dokter. Namun ilmu kedokteran terus berkembang.
Hari ini ilmu kedokteran telah terpecah menjadi berpuluh-puluh bidang keahlian dan spesialisasi. Sekedar dokter umum saja masih dianggap bukan dokter ahli.
Dokter ahli jantung itu beda dengan dokter ahli paru, beda lagi dengan dokter ahli ginjal, lever, dan organ-organ dalam.
Bahkan hanya sedikit dokter yang punya keahlian sekaligus di semua bidang tadi.
So, jangankan jadi ahli fiqih sekaligus jadi dokter, bahkan jadi dokter saja pun tidak mungkin menguasai semua spesialisasinya.
Namun demikian yang menarik diamati, meski setiap dokter punya spesialisasi masing-masing, mereka sangat akur dan pastinya selalu bekerja sama dalam menangani suatu penyakit.
Sebab penyakit zaman sekarang umumnya penyakit keren. Gimana nggak keren, kalau satu penyakit harus melibatkan beberapa dokter spesialis.
Contoh sederhana banget, ketika ibu hamil mau dioperasi cesar, harus melibatkan tiga dokter spesialis. Pertama, pastilah dokter kandungan. Kedua, wajib ada dokter anastesi. Ketiga, kudu ada dokter anak.
Ketiga dokter itu boleh jadi tidak saling kenal, bahkan juga lulus dari kampus yang berbeda. Namun SOP dan tanggung jawab masing-masing sudah jelas.
Ditambah dengan para perawat yang membuat mereka jadi satu team kompak.
Kelahiran cesar tidak boleh ditangani oleh satu orang yang bukan dokter, sekedar dukun beranak pakai pisau dapur. Bahkan juga tidak boleh ditangani oleh team yang keahliannya bukan di bidangnya.
Team sepak bola meski jumlahnya ada 11 orang plus pemain cadangan, tidak boleh melakukan operasi Cesar. Mereka ahli, tapi ahli main bola, bukan ahli bedah.
Kalau suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat











Comment