Oleh : Aru Martino
Beberapa hari ini lagi rame soal penceramah yang memasang tarif. Sebenarnya fenomena seperti itu sdh lama ada. Cuma kebanyakan yang pasang tarif itu yang masuk dalam golongan pembicara top / terkenal. Bahkan di agama saya juga ada pembicara dari luar negeri yang pasang tarif besar dan minta fasilitas kelas wow. Ada yang minta fasilitas hotel bintang lima dan minta disediakan mobil antar jemput merek ternama dengan warna harus putih karena disesuaikan dengan atributnya yang sering dipakai.
Saya sendiri berpendapat bahwa tidak salah jika seorang pembicara dibidang keagamaan itu dibayar. Cuma yang jadi masalah adalah ketika mereka mulai memasang tarif dan meminta fasilitas yang woww. Jangankan pembicara, pemain musik aja ada yang dibayar dengan bayaran cukup besar oleh gereja-gereja besar yang akibatnya berdampak buruk terhadap gereja-gereja kecil. Tidak sedikit saya dengar banyak pemain musik yang sudah pro akhirnya pindah ke gereja besar hanya karena uang.
Di gereja kecil mereka tidak dapat uang trus diajak pelayanan ke gereja besar yang ada duitnya, tentu saja tidak sedikit yang akhirnya menerima. Miris memang melihat fenomena seperti itu. Di tempat saya juga kalo mengundang pengkhotbah pasti ngasih uang. Cuma sekarang nominalnya kita turunkan.Saat almarhum papi masih ada, setiap mengundang pembicara luar, mereka dikasih sebesar 750.000 untuk durasi antara 30 sampai 45 menit.
Tapi sekarang sudah tidak 750.000 lagi. Nominalnya diturunkan jadi 500.000 untuk pembicara dari luar, tapi itupun tidak setiap bulan kami mengundang pembicara dari luar. Lalu bagaimana menyikapi fenomena pembicara yang memasang tarif? Menurut saya susah juga ya kalo masih ada lembaga keagamaan yang memberi ruang terjadinya hal seperti itu. Kita sih cm bs mengelus dada ![]()
Sumber : Status Facebook Aru Martino











Comment