by

Semua Tunggu 28 Juni, Keputusan MK

Presiden, lembaga eksekutif, didelegitimasi.
MK, lembaga yudikatif, didelegitimasi.
Polisi, penegak hukum, juga didelegitimasi lewat demo.
Sementara itu, DPR sebagai lembaga legislatif memang sudah lama tidak dipercaya publik.
 
Trias politica demokrasi menjadi bulan-bulanan dan ini dipertontonkan ke jutaan mata memanfaatkan pemilu. Lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif dan penegak hukum, semua diguyur oleh difitnah agar kepercayaan publik rontok.
 
Sistem negara ini secara nyata telah diserang di semua titik, tapi mungkin tidak semua sadar, termasuk BPN. Oposisi paling jauh hanya untung soal nego politik, kesetiaan dan militansi pendukung. Itu saja.
 
Mereka memang perlu diikat secara emosi, dalam hal ini, bara api perasaan dicurangi dan dizolimi wajib dijaga agar pion-pion tetap setia, agar semakin mudah digerakkan atau dimanfaatkan untuk tujuan politis apapun.
 
Tapi pertanyaannya, siapa yg paling diuntungkan? 
 
Jelas pihak yg ingin mengganti sistem negara ini, tahriri (HTI) dan jihadi (ISIS), kelompok anti nasionalisme.
 
Mereka sejak awal gencar menggaungkan keharaman demokrasi, menthogutkan Pancasila dan NKRI. Kondisi ketidakpercayaan terhadap lembaga negara pastinya sangat menguntungkan karena sejalan dengan paham mereka. Bibit dan tunas baru akibat pupuk kebencian hoax dan fitnah siap dipanen.
 
“Lihat negara ini, presidennya antek aseng, DPR pemalas, pengadilan berpihak ke penguasa, penyelenggara pemilu dan penegak hukummya penjilat, kita ini jelas perlu sistem baru.”
 
Narasi semisal ini nanti terus dijual menggerogoti nasionalisme Indonesia. Memang tidak perlu jd mayoritas, tidak. Merekrut tunas baru ini sangat penting tp bukan faktor penentu walau tetap perlu. Ini kenapa ada 1 elemen yg selalu dijaga walau sebetulnya sangat bisa diframing negatif. Tapi terlalu panjang kalau semua itu dibahas sekarang.
 
Yang jelas, apapun niat oposisi memperpanjang nafas, bukan mereka yg akhirnya jd pemenang karena penunggangnya jauh lebih pandai memanfaatkan momentum. Semakin besar bara kebencian terhadap negara ditiup, makin suburlah hidup si benalu NKRI.
 
Suka tidak suka, inilah PR bersama bangsa ini setelah pemilu. Siapapun boleh tidak setuju soal kebijakan petahana, tp satu hal yg tidak bisa diingkari, ada pihak yg tengah siaga menusuk memanfaatkan momen kebencian yg sengaja dipelihara ini.
 
Dan kalau ada hal yg terstruktur sistematis, masif dan brutal yg telah dijalankan, maka inilah hal tersebut. Bukan soal pemilu curang, salah input, apalagi soal tahi lalat.
 
Sumber : Status Facebook Aldie El Kaezzar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed