Oleh : Fauzan Mukrim
Di bukunya yang laris, Pak CT ada cerita tentang bisnis ayahnya yang bangkrut karena berseberangan dengan kebijakan penguasa orde baru. Dari hidup yang lumayan makmur sampai harus pindah ke losmen yang ditinggali beramai-ramai. Mungkin itu yang membuatnya tidak terlalu dekat dengan klan Cendana, tidak seperti pengusaha-pengusaha lain.
Ada seorang yang saya kenal baik juga mengalami hal yang mirip. Cuma beda rezim. Ia tidak suka rezim saat ini karena bisnisnya kolaps akibat kebijakan ekonomi Jokowi. Makanya ia sangat berharap Jokowi bisa selesai secepatnya. Keras sekali ia menggadang-gadang sosok yang menurutnya potensial untuk jadi pemimpin selanjutnya. Jadi menurutku sah-sah saja orang berseberangan dengan penguasa, dan kemudian menyukai penguasa lain di periode tertentu.
Suka dan tidak itu bisa saja didasari berbagai alasan. Mau alasan ekonomi, ideologi, atau bahkan beda cara makan bubur. Di satu sisi, ini hal yang baik bagi demokrasi. Penguasa perlu dididik dengan perlawanan supaya nggak jadi tiran. Jangan sampai ia jadi semena-mena dan hegemonik karena merasa semua orang mendukungnya. Masalahnya kan tidak semua orang bisa seperti Soe Hok Gie yang punya resistensi konstan. Gie tidak suka rezim Soekarno dan kemudian ikut menumbangkannya.
Ketika Soeharto naik dan teman-teman seperjuangan Gie pesta pora kecipratan jabatan, Gie malah menyingkir. Ia memilih ke gunung sambil terus mengingatkan teman-temannya yang masuk di lingkar kekuasaan.Sekarang ya agak beda situasinya, kelihatannya ganti-gantian aja. Pendukung rezim lama atau yang akan datang, gemar merisak pendukung rezim saat ini. Begitu juga sebaliknya.
Sekarang orang sedikit-sedikit dilabel. Dipaksa untuk sependapat: “kok kamu gak bersuara?” “Dulu waktu kasus ini, kamu ke mana?”Lha, kan dia nggak harus laporan 24 jam sama kamu dia ngapain aja. Atau “kok demo ini nggak ada beritanya?” Padahal dia tinggal nyalain TV, sementara jurnalis sudah empot-empotan kena hujan batu dan gas air mata. Aseem… ![]()
Kayak harus banget bersuara. Diam pun tetap dituduh buzzer. Padahal bisa saja dia lagi nggak mau peduli aja. Mungkin prioritasnya berubah. Mungkin ia sedang bersyukur baru saja selamat dari pandemi, baru saja menyelamatkan rumah tangganya, anaknya mulai MPASI, atau baru dievakuasi dari Ukraina dan menyadari betapa nikmatnya hidup tanpa bau mesiu dan asap bakaran ban bekas. Dan itu semua lebih penting baginya daripada menjadi bahan bakar syahwat berkuasa orang lain.
Sumber : Status Fauzan Mukrim









Comment