by

Peduli Kaharudin

Oleh : Ramadhan Syukur

KARENA buku bacaan gue di rumah sudah nyaris gak keurus, maka gue bersih-bersih buku bacaanlah. Gue pilah-pilih mana yang kudu disingkirkan dan mana yang masih dipertahankan. Tema bacaan gue sejak remaja memang gak terbatas. Mulai dari politik, agama, pendidikan, sampai sastra. Kalau harus ada yang dipertahankan, ternyata gue memilih mempertahankan karya sastra. Terutama fiksi. Yang non fiksi gue bagikan ke siapa aja. Selebihnya buku agama yang bersifat referensi.

Eh, ndilalah kok kemarin di timeline gue berseliweran video seorang Koordinator Pusat BEM SI, bernama Kaharuddin, yang di acara Hotman Paris bilang “…di jaman Orde Baru masyarakat lebih mendapat kebebasan dan kesejahteraan.”Ah, bajindul nih mahasiswa. Dia gak tahu sejarah atau gak pernah baca buku sejarah kali ya? Yah minimal pernah nanya-nanyalah sama cikal bakal dirinya, yaitu bapak ibunya atau kakek neneknya yang merasakan hidup di jaman aktivis ngemut sepatu tentara.

Dia gak tahu apa bahwa kebebasan dalam menyampaikan pendapatnya saat ini adalah hasil kerja keras di masa perjuangan melawan Orde Baru. Dia gak tahu apa akibat sebuah pemberitaan yang dianggap membahayakan kedudukan orang-orang berpengaruh, perusahaan penerbitan bisa diberhentikan secara paksa dan ditarik izin terbitnya. Gara-gara penindasan pemikiran puluhan tahun di bawah Orba itulah, wartawan, mahasiswa, seniman, politisi, kaum profesional, pengacara, dan cendekiawan, ibu rumah tangga selama berhari-hari turun ke jalan untuk mendukung kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat.

Dan itulah sebabnya kau hai Kaharuddin, sekarang bisa ngomong bebas walau ngawur. Asal jeplak dan gak pakai referensi. Tapi kalau melihat cara ngomong dan isi omongannya, dugaan kuat gue nih mahasiswa gak suka baca buku selain buku pelajaran di sekolah. Dari aura wajahnya juga kelihatan gak asyik kok buat berdiskusi. Dan gara-gara mahasiswa huajinguki, kok gue jadi nyesel sudah menyortir dan menyingkirkan buku-buku bacaan gue tentang masa-masa kelam Orde Baru yang sangat gak mentolerir perbedaan pendapat dan kebebasan berbicara.

Kalau enggak kan bisa gue kirim semua ke rumah si Kaharuddin. Biar dia puas bacanya. Nah, tadi malem gue iseng ngorek-ngorek sisa-sisa kepustakaan gue, eh ternyata masih ada yang ketelingsut satu buku di rak kayak slilit di gigi. Judulnya “Saya Musuh Politik Soeharto” tulisan Sri Bintang Pamungkas. Jujur, dulu gue sempat ngefans sama politikus satu ini yang ketika terjadi demonstrasi mahasiswa Indonesia di Jerman menentang kehadiran Presiden Soeharto, dia kebetulan ada di sana buat memberi ceramah.

Karena dia memang vokal dan jujur mengaku berseberangan dengan Soeharto, apeslah. Bintang kemudian ditangkap, dituduh makar dan diancam hukuman mati.Buat yang tahu dan punya alamat Kaharuddin, tolong kirim ke gue dong. Gue mau kirim satu buku tersisa ini buat dia baca dan semoga pikirannya terbuka.Dan barangkali yang lain kalau berminat mengirim minimal satu judul buku tentang Orde Baru sebagai tanda PEDULI LITERASI KAHARUDDIN, menurut gue bagus demi memperkaya literasi mahasiswa kita .#PeduliLiterasiKaharuddinRamadhan Syukur

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed