Orde Baru Membantai Muslim

Pada tanggal 10 Oktober 1996, terjadi kerusuhan anti-Kristen dan anti-orang keturunan Tionghoa di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Massa mengamuk, sebanyak 56 gedung terbakar (24 di antaranya gereja) dan beberapa korban meninggal.

Sementara di Tasikmalaya Jawa Barat, kerusuhan meletus pada 26 Desember, yang berawal dari aksi pemukulan polisi terhadap KH. Mahmud Farid. Dari kerusuhan ini, tercatat 70 bangunan rusak serta 107 kendaraan terbakar dan empat korban meninggal dunia.

Baik di Situbondo maupun di Tasikmalaya kaum minoritas Tionghoa menjadi korbannya baik jiwa maupun harta benda. Dan semuanyabuntuk menyudutan NU dn Gus Dur.

Munculnya “ninja-ninja” yang membantai guru ngaji, merupakan peristiwa kelam yang dikenang oleh sebagian besar warga nahdliyyin.

Tragedi pembantaian Banyuwangi pada 1998, menelan korban dengan catatan beragam versi. Ada perbedaan jumlah korban antara versi Pemkab Banyuwangi dan versi Tim Pencari Fakta (TPF).

Pemkab Banyuwangi (masa itu) merilis ada 115 korban jiwa yang tersebar di 20 kecamatan. Adapun versi TPF Nahdatul Ulama ada korban meninggal dunia lebih banyak, yakni 147 jiwa

Menurut Gus Dur, operasi-operasi yang dilancarkan guna menyulut kerusuhan-kerusuhan itu dinamakan “Operasi Naga Hijau”.

Dalam konteks percaturan politik Indonesia, “hijau” bisa bermakna dua: ABRI (TNI) dan Islam. Bahkan dalam konteks “Operasi Naga Hijau”, istilah itu mungkin juga menunjuk pandangan pihak militer terhadap apa yang mereka anggap sebagai golongan ekstrem Islam (hijau).

23 JULI 1999. Di Beutong Ateuh, terjadi salah satu peristiwa paling mengerikan dan juga merupakan satu dari sekian banyak pembantaian selama operasi militer yang dilaksanakan di Aceh, yakni Peristiwa Beutong Ateuh atau juga dikenal sebagai Peristiwa Tengku Bantaqiah.

Tengku Bantaqiah adalah seorang alim ulama yang memimpin sebuah pesantren yang terletak di Beutong Ateuh bernama Pesantren “Babul Al Nurillah” yang dituduh oleh TNI sebagai tempat penyembunyian alat logistik GAM.

Tuduhan ini tidak pernah terbukti, namun ekses dari tuduhan tersebut adalah pembantaian terhadap warga sipil yang merupakan jamaah pesantren dan juga Tengku Bantaqiah sendiri yang dilakukan oleh personel TNI yang berada di bawah kendali operasi (BKO) Korem 011/Liliwangsa yang terdiri dari pasukan Yonif 131 dan 133 dengan didukung satu pleton pasukan dari Batalyon 328 Kostrad.

Dalam peristiwa tersebut tercatat 56 orang tewas dan hilang ditembaki tentara. Selain itu, ratusan orang trauma atas perisitwa tersebut.

Bahkan setelah Suharto jatuh, kerusuhan merebak di berbagai daerah setiap kali Suharto hendak dipriksa atau diadili dan didemo mahasiswa atau rakyat.

Di Ambon keributan antar preman dan sopir angkot merembet ke kerusuhan SARA dan menjadi perang antar agama yaitu Islam Kristen. Ulah provokator dari Jakarta Jakarta dan pengerahan laskar jihad makin mengeruhkan suasana. Ribuan orang tewas dari dua kubu.

JELANG akhir kekuasaannya Suharto mendekati umat Islam. Bukan karena dia insyaf, melainkan karena dia kehilangan dukungan dari ABRI terkait bisnis anak anaknya yang makin merajalela.

Suharto mendirikan ICMI dan pergi haji bersama Ibu Tien. Dia memberhentikan LB Benny Moerdani yang Katolik dan mengangkat Feisal Tanjung yang diberi predikat jendral Islami. Lalu wacana “ABRI Merah Putih” dan “ABRI Hijau” marak. Dipertentangkan.

Modus Suharto dan Keluarga Cendana tak berubah – dari dulu hingga kini – yakni mengadu domba demi melanggengkan kekuasaannya.

Selain mengadu domba pribumi dengan non pribumi khususnya Tionghoa – mengadu domba sesama ABRI – juga sesama muslim.

Kini pun anak anak Cendana melakukan modus yang sama dengan merekrut muslim radikal 212 untuk melawan muslim NU dan warga nasionalis moderat. ***

Sumber : Status facebook Supriyanto Martosuwito

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *