Oleh : Zulfahani Hasyim
Fenomena lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” yang viral di kalangan masyarakat bawah dan mengundang kecaman dari beberapa pihak, dalam pandangan saya ini adalah contoh nyata kebutaan masyarakat Indonesia terutama umat Muslim Indonesia tentang sejarah Islam di Indonesia.
Kebutaan akan sejarah Islam di Indonesia ini menurut penulis disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:
1. Penjajahan
Penjajah Belanda, Inggris, Portugis, dan Spanyol yang notabene beragama Nasrani, yang pernah menduduki Indonesia pastilah ingin memutus alur sejarah dalam masyarakat kita terutama sejarah Islamnya. Karena jika sejarah itu berakar kuat di tengah masyarakat Nusantara, perlawanan rakyat Indonesia ke penjajah akan semakin kuat, apalagi jika ditambah motivasi agama, pastilah semakin kuat. Maka agar perlawan itu tidak kuat diputuslah rantai sejarah itu.
2. Distorsi oleh Orde Baru
Orde Baru sudah maklum kita sepakati bahwa mereka banyak melakukan distorsi terhadap sejarah bangsa Indonesia. Tujuannya mirip seperti para penjajah, yaitu mengecilkan perlawanan masyarakat terhadap rezim.
3. Pengaburan Sejarah oleh Islam Transnasional
Kita tahu bahwa cara dakwah Islam transnasional itu salah satunya merusak sejarah suatu masyarakat muslim di suatu wilayah. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Arab pun banyak distorsi sejarah dilakukan oleh kalangan Wahabi-Salafi, Hizbut Tahrir, dan Ikhwanul Muslimin. Hal ini karena sejarah yang benar sangat tidak menguntungkan bagi ajaran mereka. Sejarah bisa membantah ajaran-ajaran mereka. Terlebih di Indonesia, mereka yang antipati dengan Islam Nusantara, berusaha mendistorsi sejarah Islam di Nusantara. Bahkan mereka tidak segan mengatakan bahwa Walisongo itu fiktif. Tujuan distorsi ini adalah agar masyarakat mau dibodohi mereka bahwa Islam yang benar itu yang versi mereka saja. Maka masyarakat Muslim Indonesia harus buta akan sejarah Islam Indonesia yang memiliki banyak kekhasan dan tipologi.
Lihat hasilnya sekarang, masyarakat awam bahkan tidak tahu siapa itu Joko Tingkir. Apalagi jika kita menyebut Raden Mas Karebet, lebih tidak tahu lagi masyarakat awam kita.
Di sinilah pentingnya pembelajaran sejarah bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Muslim. Tanpa akar sejarah yang kuat, suatu komunitas bisa dengan mudah dibodohi dan ditipu dengan ajaran-ajaran sesat Islam Transnasional.
Sumber : Status Facebook Zulfahani Hasyim











Comment