by

Mahasiswa Ongol-Ongol

Oleh : De Fatah

Mahasiswa harus kritis, itu harus. Mahasiswa harus peduli dengan keadaan negara, itu iya. Tapi, kritik mahasiswa harus berdasarkan fakta, bukan opini. Fakta juga harus dipahami dengan benar. Itu yang membedakan mahasiswa betulan dengan mahasiswa ongol-ongol.

Misal, mengkritik Jokowi atas janji-janji politiknya yang belum tampak, itu wajar. Tapi, mahasiswa harus juga punya data, apa janji politik yang sudah terealisasi, sedang dalam proses pekerjaan atau masih belum terlaksana sama sekali. Fokus kesitu, sambil adu data dan memberikan gagasan.

Tapi, jika tanpa data yang benar kemudian menuduh Presiden tukang bohong atau pembual, itu bukan kritik, tapi kebencian.Mengkritik pemerintah soal utang, itu sah. Tapi juga perlu pemahaman soal kapan utang itu dibuat, atas persetujuan siapa, apakah proporsinya sudah melebihi GDP, untuk apa utang tersebut digunakan dll. Saya tinggal di Sumatera, tak pernah terpikirkan ada TOL yang menyambungkan kota-kota di Sumatera.

Saya paham pemerintah membangun semua itu sebagian memakai utang. Selagi utang tersebut digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang berdampak dengan perekonomian bagi saya tak masalah, dan saya berterima kasih.

Tapi, kalau mengkritik pemerintah dengan opini rakyat tak butuh infrastruktur tapi perlu bahan pangan murah, itu bukan kritik, itu namanya pandir, adiknya pekok. Infrastruktur itu dibangun untuk mewujudkan biaya operasional murah, yang berdampak pada harga bahan pangan.

Mengkritik Jokowi soal KPK, itu bagus. Tapi, kalau soal badan presiden kerempeng, plangak plongok, atau gak pakai otak, itu bukan wilayah kritik, itu kebencian.Memusuhi lebih mudah. Untuk memusuhi gak perlu jadi mahasiswa, sampean cukup bisa tarik nafas bisa memusuhi…

Sumber : Status Facebook De Fatah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed