Oleh : Lantip Wicaksono
Banyak yang merasa tidak tega ketika video penganiayaan Ade Armando dalam aksi mahasiswa di depan gedung DPR 11 April kemarin. Tanpa kita sadari, ternyata orang-orang yang perilakunya seperti kaum khawarij sudah tersebar di sekitar kita. Mengapa? Mereka yang merasa paling beriman, paling sholeh dan bebas mengenakan hukum kepada orang lain. Hingga ketika kekerasan terjadi, sama sekali dibiarkan begitu saja.
Anak-anak muda yang semestinya menyelamatkan, memasang badan, membantu aparat menegakkan hukum diam saja. Tidak sedikit yang ikut memukuli, menendang, mencaci dan tindakan biadab lainnya. Banyak teriakan-teriakan yang penuh kebencian meruyak disana. Padahal banyak yang tahu, siapa Ade Armando. Setidaknya dia dosen. Kalau tidak, dia seseorang yang sudah mulai menua, 61 tahun. Atau kalau tidak, dia disana bukan menantang, memegang senjata tajam atau membahayakan yang lain.
Atau kalau tidak tahu bahwa Ade Armando seorang muslim, minimal beliau manusia. Dan saat terjadi pemukulan, pengeroyokan, penganiayaan tidak ada yang melindungi apalagi membela. Tidakkah kaliah para mahasiswa disekitar kejadian tersentuh hatinya menyelamatkan seseorang disana? Kaliam diam saja? Lantas terbuat dari apa hati nurani kalian? Jangan harap kebaikan akan menyambut dimasa depan bila kekerasan dibiarkan terjadi di depan matamu.
Bukankah kalian itu tahu, hukum harus tegak dinegeri ini. Bagaimana bisa kekerasan terjadi di depan mata dan kalian diam saja? Tidakkah kalian merasa ada yang tidak benar disana? Bahkan beberapa menyebut, pengeroyok sebenarnya kawannya sendiri. Sebuah tuduhan tolol yang tiada batas. Bagaimana bisa menyebut begitu? Apakah bila kita benci seseorang maka kita bebas berbuat apa saja kepadanya? Bahkan ketika sudah tak berdaya sama sekali, bebas kita matikan? Terbuat dari apa hati nurani mu.











Comment