by

Jika Sorga Boleh Memilih

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Jika surga boleh memilih, maka saya memilih pojok Taman Ismail Marzuki (TIM), khususnya di Taman Buku Jose Rizal Manua. Rasanya di sana seperti surga – setidaknya surga dunia di hari ini. Pada usia saya yang tak muda lagi, membaca buku menjadi kenyamanan yang surgawi. Buku yang dipegang – buku cetakan. Bukan buku digital.

Saya sudah tak terobsesi kepada kecantikan bidadari, sebagaimana muslim bangkotan lain. Kecuali jika bidadarinya secantik Luna Maya, Wulan Guritno atau Dian Sastrowardoyo.
Tapi itu pun saya tak yakin, jika pun bisa mendapatkan – apa kuat meladeninya? Memuaskan mereka?

Betapa sejuk suasana toko buku Jose Rizal, siang itu. Membikin betah, dan sangat menginspirasi. Setiap kali melihat rak dan buku bersusunan, dan majalah, pamflet dan poster seni bergeletakan, saya jadi “syur”. Seperti Oom-oom genit ketemu perempuan cantik dan sexy.

Meski kursi santai yang ada di pojokan hanya terbuat dari plastik, tapi pas di posisi nyantai, sembari memegang buku dan menerawang ke dunia lain. Apalagi tersedia meja, dengan kopi, teh dan termos air panasnya.

JOSE RIZAL MANUA, pendiri dan pengelola pojok buku ini, saya kenal sejak 35 tahun lalu. Kami sama sama alumni Brooklyn University di New York, tahun 1988.

Kami jadi alumni bukan karena kuliah dan jadi mahasiswa di sana, melainkan sebagai penginap di asramanya. Bersama sama musisi Tony Prabowo, WS Rendra, Ken Zuraida, Dahlan Rebo Pahing, Udin Mandarin, Kodok Ibnu Sukodok. Saya lupa lupa ingat, apakah Sawung Jabo ikut ke sana.

Sebelum itu, saya ikut proses pementasan Panembahan Reso Bengkel Teater Rendra, di Istora Senayan dan mondar mandir ke Jl. Mangga Raya 89, Depok.

Memiliki toko buku seni dan budaya merupakan oleh oleh sepulangnya dari Amerika Serikat. Di sela latihan bersama Bengkel Teater Rendra saat diundang mengikuti “The 1st New York Festival”, di New York, tahun 1988 – kami jalan jalan dan mendapati banyak sekali “Secondhand Book Store”, dan gelaran kaki lima yang menjual buku seharga 1 hingga 5 dollar. Sangat murah.

Mas Jose menggagas seandainya di Indonesia juga ada toko serupa.

SEBAGAI penyair, dramawan, teaterawan dan aktor film, Jose Rizal Manua fokus di bidang itu. Pendiri Teater Tanah Air ini yang kerap keliling dunia – bersama seniman teatar anak anak – itu mencari, menampung, dan menjual buku buku lawas dan buku baru, seputar isu seni dan budaya itu.

Perlahan namun pasti, Jose Rizal mewujudkan impiannya, menyediakan buku bekas, buku langka, buku seni dan budaya, serta mendapat pengunjung setianya. Lokasinya di pojok TIM. Dulu di pojok Graha Bhakti Budhaya, satu barisan dengan sineplek TIM 21, belakangan masih tak jauh dari sana.

Apa yang lebih menyenangkan dari mimpi yang menjadi nyata? Jose Rizal Manua kini mendapatkannya.

Selaku jurnalis peliput seni yang dekat dengannya, saya mengamati dan mengikuti. Kerap mampir juga, setiap kali menyambangi TIM – sekadar melihat lihat dan sesekali membeli. Jose yang baik hati kadang menerima uang pengganti dari saya – tapi juga sering menggratiskan buku yang saya inginkan. Apalagi kalau bukunya tipis tipis. “Bawa aja, Pri, ” katanya.

Saya memang ikut mempromosikannya di media saya beberapa kali. Penting diketahui oleh publik juga, ada toko buku lawas, yang khusus menyediakan karya karya seni dan budaya.
“Mas Jose, saya cari buku ‘Proses Kreatif’, kumpulan para sastrawan. Koleksi saya hilang, ” kata saya ketika mampir bareng Matt Bento di satu siang, pekan lalu.

“Yang sampulnya warna biru itu, ya? Memang buku bagus itu. Kosong, sayangnya. Nanti saya carikan,” katanya.

“Saya sudah dapat yang satunya, ada cerita tentang Mas Willy juga. Dari penerbit lain. Tapi tidak sebagus yang itu,” kata saya.

“Memang yang terbaik yang editornya Pamusuk Este itu, ” jawab Mas Jose.

Tak sulit mengkonfirmasi buku buku yang disediakan. Jose Rizal Manua bukan pelapak buku di Pasar Senen atau Blok M, atau Salemba dan Pinangsia, yang menunggui buku dagangannya semata mata untuk jualan. Dia juga pembaca buku yang tekun, dan buku pilihan. Maka dia tahu buku bagus.

“KAMU tahu, Pri, sepulang dari New York, Mas Willy diundang Korea. Tampil dan difasilitasi di sana. Saya ikut juga. Dan Korea kini jadi penentu seni budaya dunia, ” kata Mas Jose Rizal, saat duduk mantap di kursinya dan melihat saya mondar mandir melihat koleksi buku yang barangkali saya belum memiliki.

Mas Willy adalah panggilan kami untuk WS Rendra. Nama aslinya memang Willybrodus Surendra Rendra Brata.

“Bukan hanya Mas Willy yang diundang sama Korea. Semua seniman terbaik dunia diundang di sana, pentas dan berkarya di sana. Pemerintah memang menyiapkan, merancang, dan setelah dua puluh tahun jadilah seperti sekarang. K-Pop, Drakor (drama Korea) sekarang jadi pemainnya. Luar biasa, ” kata Mas Jose.

Pelajaran dari Korea, pemerintah Indonesia harus terlibat, dan menyiapkan matang untuk menjadi pusat budaya dunia. Korea yang selama puluhan tahun jadi negera industri bisa berubah jadi negara seni dan kreatif. Jadi pusat industri hiburan. Indonesia harus mengarah ke sana – kata Mas Jose.

POJOK BUKU Jose Rizal adalah oase dari kegersangan TIM yang kini tengah dibongkar dan dibangun, dalam proyek akbar komplek TIM yang tengah dikembangkan sebagai pusat seni budaya dunia. Konon, pendesain dan insinyurnya dari Australia.

Proyek pembaruan TIM sempat menuai protes, di antaranya Radhar Panca Dhana (alm) – sesama alumni Bengkel dan novelis Noorca N. Massardi. Bahkan dibawa ke Komisi X DPR RI, namun protes itu mereda setelah mereka dipertemukan dengan pihak yang bisa menjelaskan.

” Ada kesalahan Pemda DKI mengutus orang; untuk menjelaskan kepada para seniman. Yang dikirim nggak tahu ‘bahasa seniman’, sok jagoan juga. Jadinya bukan dialog malah nantang berkelahi, ” kata Jose menyesali.

“Kalau sudah jadi di sini akan menjadi pusat seni dan pertunjukan terbaik di seluruh dunia, ” katanya.

Panjang lebar dia menuturkan rencana rencana dan perubahan di TIM. Gedung pertunjukan, tempat latihan, teater, kine klub, gedung dokumentasi sastra HB Jassin penginapan seniman dalam. Satu kompleks. Di seluruh dunia hanya ada di TIM, tegasnya.

TIM saya sambangi sejak 1980-an, sejak sang legenda dan maestro lukis Affandi, R. Basoeki Abdullah masih sehat dan pameran tunggal. Juga mengenal SriHady Soedarsono di sana, Nazar dan Hardi, nonton pentas baca sajak Sutardjo Calzoum Bachri, WS Rendra, setelah dilarang tampil selama bertahun tahun oleh rezim Orde Baru.

Ikut diskusi filsafat dan budaya dari Prof. Wiratmo Soekito, Drs. Asrul Sani, Mochtar Lubis, bersama Pak Boedihardjo, mantan Menteri Penerangan, yang rajin mendokumentasikan dengan kamera poketnya.

Nonton pertunjukan di Teater Terbuka, Tertutup, Teater Kecil, ikut shalat di masjid Amir Hamzah dan melihat latihan tari di Huriah Adam, di halaman belakang.

Semua berubah kini. Dan semoga menjadi lebih baik, lebih indah dan lebih megah, sebagaimana digagas pembangunannya dan dijelaskan Mas Jose.

Meski demikian, surganya TIM, sejauh ini, bagi saya masih pojok Buku Jose Rizal Manua.

(Sumber: Facebook Supriyanto M)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed