by

Jalan Tengah Raga dan Rasa

 

Tapi inilah pilihan Jokowi, ia merasa bahwa kemajuan Indonesia-sentris harus didukung dengan guyubnya rasa persaudaraan. Infrastruktur yang dibangun megah untuk generasi yang akan datang, jangan sampai dilewati oleh arus lalu lintas kebencian. Ia ingin polarisasi ini habis sudah. Ia memilih jalan keseimbangan antara raga dan rasa.

Tentu ada yang dikorbankan. Mencari keseimbangan diantara bara-bara panas sekelilingnya, adalah portofolio kebanyakan pilihan politik Jokowi. Dan kali ini, ia masih tak mau pula bermain aman.

Ia tahu, banyak pendukung yang akan kecewa. Mana bisa tokoh yang menjadi salah satu sebab massifnya 212 diajak sebagai pendamping utama, sekaligus pengganti jika ia berhalangan? Ada beberapa yang sudah memutuskan untuk golput. Tentu hak politik, adalah sangat asasi, harus dihargai. Namun pilihan ini diambilnya karena ia merasa bahwa kemajuan Indonesia harus ditempuh bersama. Rekonsiliasi adalah kunci Indonesia betulan menjadi negara maju.

Rekonsiliasi ini juga diharapkan akan semakin mengurangi pintu fitnah, karena bergandengnya dua echo chamber (ruang gema) utama di negeri ini, kalangan nasionalis, dan religius. Meski fitnah tak mungkin bisa hilang, karena ia akan selalu menyertai kehidupan manusia sampai kapanpun, tapi setidaknya ketika efek ruang gema bisa dikurangi, maka potensi penyebaran fitnah akan berkurang.

Ini adalah jalan yang dipilihnya untuk menyeimbangkan raga dan rasa, supaya anak cucu kita bisa merasa nyaman dan damai menikmati diatas kokohnya bangunan Indonesia yang sedang kita kebut ini.

Wallahua’lam.

-Zek-

 

(Sumber: Facebook Muhammad Jawy)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed