Oleh: Erizeli Bandaro
Organisasi profesi seperti lawyer atau dokter atau lainnya punya tujuan sebenarnya adalah menyamakan standar etika dan moral di antara mereka dalam melaksanakan profesinya. Etika dan moral itu hanya berhubungan dengan pelayanan dan interaksi mereka dengan clients. Maklum mereka melayani market yang sama. Valuenya ada pada profesi mulia mereka. Semua sepakat menjaga value itu. Apa standar etika dan moral itu? Ya hospitality (keramahtamahan), Itu sebabnya di luar negeri rumah sakit disebut hospital.
“Dalam hal profesi selain dokter itu biasa saja. Tetapi untuk profesi dokter lain. Dokter juga bagian dari sistem pemasaran industri pharmasi. Industri butuh pengakuan dari profesi semacam dokter. Industri pharmasi ya tetaplah bekerja sebagai sebuah industri. Kadang karena motif bersaing mereka menggunakan organisasi profesi sebagai pintu masuk mematikan pesaingnya dan mengejar hegemoni. Dan ini memungkinkan sistem kesehatan yang terikat dengan standar kapatuhan medis yang ditetapkan WHO,” kata teman saya kemarin waktu kemarin bertemu.
Makanya jangan kaget bila profesi dokter sudah menjadi bagian dari mesin kapitalis industri. Dokter yang bukan ilmuwah riset diharuskan patuh dengan produk obat dan alkes berbasis riset. Metodelogi riset itu standarnya WHO. Padahal sains itu yang katanya berbasis riset itu tidak seutuhnya benar. Mengapa? Setiap observasi ilmiah dapat dilihat dari berbagai perspektif berbeda. Bahkan setiap teori dapat saja dibelokkan dengan sudut pandang yang baru. Apapun yang katanya ilmiah itu bukan kebenaran dan kepastian.
Engga percaya? cobalah kalau teori klasik Newton itu dianggap kebenaran yang final. Saya yakin tidak akan ada perubahan. Tetapi karena banyak yang kritik dan membantah, teori itu berkembang terus sampai dengan munculnya sebuah paradigma relativitas yang dipelopori oleh Albert Einstein. Tahun 2013 saya kena jantung coroner. Dokter di Penang-malaysia, nasehati saya untuk minum jamu. Kalau tidak sembuh juga dalam sebulan. Saya disarankan kembali ke dia untuk dioperasi. Ternyata sebulan makan jamu itu, keluhan tidak ada. Saya general check up di RS, saya bebas dari jantung coroner.
Nah andaikan dokter Malaysia itu patuh dengan standar kesehatan berbasis riset, saya yakin saat itu dia sarankan saya dioperasi. Tetapi dia utamakan hospitality. Bukankah menghormati kearifan lokal juga adalah bagian dari hospitality. Sampai kini diusia mendekati 60 tahun saya tetap sehat tanpa obatan berbasis riset. Tetapi dengan jamu saja. Alhamdulilah saya bebas dari penyakit gula, asam urat, kolestrol, jantung, darah tinggi. Ke RS tiap tiga bulan hanya untuk general check up. Semua clean.
Dan lagi yang membuat tidak terjadi kemajuan dan perubahan yang lebih baik dari zaman ke zaman ya hanya agama. Mengapa? karena orang dipaksa percaya dan patuh. Maka matilah nilai esensi spirit manusia, apa itu? kebebasan. Dan kalau profesi dokter mengaminin standar WHO dan fatwa WHO, maka dia sama seperti agama, IDI tak ubahnya dengan MUI. Lembaga yang tidak boleh disalahkan. Paling suci. Namun faktanya fatwa juga ternyata adalah bagian dari bisnis.
(Sumber: Facebook DDB)











Comment