Oleh : Agung Wibawanto
Baru saja Oki Setiana Dewi (OSD) mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada publik terkait ceramahnya yang dianggap menormalisasi KDRT. Berikut kutipannya: “Terimakasih atas perhatian dan kasih sayangnya. Tentu saya sangat menolak kekerasan dalam rumah tangga. Mohon maaf lahir batin atas kesalahan dalam menyampaikan dan semoga Allah mengampuni saya dalam setiap kesalahan-kesalahan saya,” ungkapnya. Kali ini muncul viral pendakwah lain yang dianggap tidak memahami budaya leluhur bangsa. Khalid Basalamah (KB) namanya. Ia mengatakan bahwa wayang harus dimusnahkan karena tidak sesuai dengan tuntunan agama.
Tentu saja ceramahnya mendapat kecaman dan protes dari budayawan, pengamat, pelaku pertunjukan wayang hingga masyarakat Jawa. KB ini seperti tidak pernah belajar dari kesalahan yang sama di tahun 2016 lalu. Di mana pada saat itu ia seolah sangat tahu mengatakan bahwa tsunami terjadi di bumi Aceh karena warga Aceh mengonsumsi ganja dan menyembah Dewa Laut. Pada akhirnya ia meminta maaf kepada masyarakat Aceh dan mengaku mencintai Aceh yang dikenal sebagai serambi Mekkah nya Indonesia. Menjadi pendakwah memang tidak mudah terlebih terkait dengan ilmu fiqih yang harusnya dipelajari terlebih dahulu dari banyak referensi dan tafsir sehingga sanadnya jelas. Tidak sekadar beropini bebas lalu beranggapan sudah tahu dan paling benar (pendapat pribadi).
Hal ini tentu akan menurunkan rasa kepercayaan jemaah (kalau memang sudah punya jemaah). Tidak usahlah yang disampaikan itu dakwah (ajaran) agama, orang awam seperti saya yang sekadar berpendapat pribadi terkait politik saja pastilah menimbulkan pro-kontra. Apalagi ini ceramah agama yang diharapkan menjadi tuntunan bagi yang mendengarnya. Sebelum OSD meminta maaf, para pengagumnya membela mati-matian dan balik menyerang. Begitu juga dengan pengikut KB.Bisa dipahami kini bahwa juru dakwah itu bisa melahirkan ucapan yang diyakini dan diikuti secara berjemaah. Kalau baik ya baik berjemaah, tapi kalau buruk ya lahirnya jadi buruk berjemaah. Kebaikan atau keburukan pendakwah akan didengar dan diikuti jemaahnya.
Apakah mereka tidak berpikir sejauh itu? Bahwa pendakwah bisa menebar salah dan dosa kepada jemaahnya. Semua pun bisa begitu, tidak hanya pendakwah. Dosen, guru, pemateri pelatihan, politikus dan sebagainya yang memiliki komunitas orang yang mendengarkan, turut memiliki tanggungjawab terhadap konten yang disampaikan. Untuk itu, kan biasanya ada materi yang harusnya dipersiapkan dahulu yang sudah dianggap benar karena sesuai dengan pakemnya. Ada teorinya, ada ilmunya dan ada pula yang mengajarkan (gurunya). Kesalahan memang tidak semata dijatuhkan kepada pembicara, tapi juga bisa dilacak apakah sumbernya sudah benar atau belum?
Pendakwah yang hanya belajar dari YouTube, tentu akan berbeda dengan mereka yang sudah lama memperdalam ilmu agama di pondok pesantren, misalnya. Tidak pula sekadar wajah cantik/cakep serta bergaya kearab-araban (berjanggut) kemudian merasa layak berdakwah memberi tausiyah kepada jemaah. Terlebih di era digital sekarang ini di manapun itu (yang mestinya untuk kalangan sendiri) dengan mudah direkam dan diupload di medsos sehingga diketahui banyak orang (netizen). Sedikit mengalami kesalahan, maka bisa malu sendiri terlebih lagi pendengar sudah mulai tidak percaya.
Bisa dianggap ilmunya masih cetek, pengalamannya minim ataupun naif (maka sering saya bilang, berbicara itu lebih resiko ketimbang menulis). Kasus OSD dan kini KB bisa menjadi evaluasi bersama terutama para pendakwah agar “ojo dumeh”. Mentang-mentang dianggap pendakwah, mentang-mentang punya pengikut banyak, lantas beranggapan dapat berkata apapun. Apa yang disampaikan pendakwah akan memiliki implikasi berjemaah tadi. Jangan sia-siakan status pendakwah. Untuk itu sampaikan sesuatu yang baik agar menjadi bekal mu kelak di akhirat. Berpikirlah. Ada sebuah nasehat yang kiranya baik untuk direnungkan.
“Sebuah lidi akan mudah patah, tapi banyak lidi yang disatukan bisa membersihkan sampah. Namun jangan sekali-kali menjadi lidi yang tercerai berai, karena itulah sampah sesungguhnya”. Hindari ceramah yang akan memecah belah bangsa atau kita semua akan menjadi sampah. Semoga OSD dan KB dapat memahami nasehat ini sehingga lebih bijak dalam menyampaikan tausiyahnya. Tabik.











Comment