Oleh: Erizeli Bandaro
Pernah di China saya meliat ada kecelakaan. Motor dengan mobil. Saling senggol. Dari jendel kendaraan saya tidak meliat satupun kendaraan berhenti melihat kecelakaan itu. Orang pinggir jalan yang nonton juga engga ada. “Lihat aja. Dalam 5 menit sudah datang polisi dan paramedis,“ kata teman.
“Ada yang lapor?” tanya saya.
“Semua jalan di china di pasang CCTV. Kalau ada kecelakaan. Polisi tahu siapa yang salah dan mereka pasti datang cepat.“
“Kenapa tidak ada kendaraan yang berhenti atau melambat untuk lihat kecelakaan ini,” kata saya. Ingat di Indonesia kalau ada kecelakaan pasti rame orang nonton.
“Kalau kendaraan berhenti atau melambat karena kepo soal kecelakaan ini, ya kena denda.”
“Mengapa?”
“Memperlambat kendaraan atau berhenti sehingga membuat jalanan macet itu pelanggaran hukum,“ kata teman
Dari segi hukum dan idiologi, Indonesia tentu beda dengan china. Tetapi secara kemanusiaan, orang china dan indonesia sama saja. Rasa kepo karena sikap empati dan peduli, sama saja. Hanya saja, pemerintah china meliat rasa ingin tahu masalah orang lain, itu adalah budaya yang salah. Seharusnya setiap orang focus kepada masalahnya sendiri. Soal diluar dirinya, itu urusan orang lain.
Kalau urusan itu berdampak hukum, ya tugas negara menyelesaikannya. Itulah sebab maka aturan dibuat. Kepo dilarang.
Di Indonesia memang budaya kepo itu besar sekali. Dan kalau karena kepo itu bikin orang lain kesel, kita engga peduli. Kalau ada kecelakaan motor senggolan dengan mobil, jalanan pasti macet. Bukan karena senggolan itu. Tetapi karena ramenya pengendara motor berhenti dan roda empat bersilambat. Walau karena itu orang lain dirugikan.akibat macet, mereka engga peduli. Dunia menyaksikan lewat tayangan TV, sikap kepo itu dalam kasus Sarinah. Polisi sedang berjibaku dan baku tembak dengan teroris, eh malah ditonton dari dekat dan selfi lagi!
Makanya jangan kaget, berita selep pasti digemari. Apapun tayangan dan berita sosial media yang mengundang kepo, pasti dibaca dan ditonton. Pasti banyak yang like. Judul berita atau YouTube, pasti dibuat yang mengundang orang kepo. Tentu tujuannya orang rame yang like. Padahal sikap kepo itu engga nguntungi apapun. Tidak ada dampak positif bagi hidupnya. Engga akan mengurangi angsuran motor dan rumah. Tidak akan mengurangi hidup blangsat. Bahkan mereka jadi target bagi orang cerdas untuk dapatkan uang dari sosmed dengan cara mudah.
Beberapa tulisan saya yang bersifat edukasi, sangaja saya tulis tanpa judul. Dan memang tidak banyak yang like. Karena yang baca memang tujuannya nambah pengetahuan dan tidak punya sifat kepo. Kelompok rasional yang engga kepoan, memang tidak banyak. Makanya yang hidup layak juga engga banyak. Selebihnya adalah masyarkat kerumunan dan doyannya, senang liat orang susah. Susah lihat orang senang. Dah gitu aja.|
(Sumber: Facebook DDB)











Comment