Oleh : Bagus Hariyono
Persoalan rumit di dunia teologis menghadapi orang2 tersebut adalah bagaimana jika 10 taun lagi, mereka dengan tampilan baru akan menjadi tokoh2 persaksian pertobatan, dan persaksian itu membuat gandrung generasi baru yang jauh hidup pasca kejadian kejahatan? Pada kasus orang di paling kiri, maka korban melakukan buwnu diyri, dan kebetulan netijen melakukan pembelaan sehingga, almarhumah menjadi figure yang didoakan.
Andai kejadian ini tidak viral, bagaimana dengan para pelaku buwnu diyriy yang lain?? Mengapa para pengkhotbah berkata “pelakuw buwnu diyriy masyuk neraka”? . Lalu kemudian pelaku kejahatan yang menyebakan orang yang buwnu diyriy itu memliki kesempatan bertobat 5, 10 taun kemudian dan masyarakat yang lahir kemudian histeris heboh? Pada kasus yang dilakukan gambar di tengah, jika dia bertobat, dan public melupakan, bagaimanakah nasiib korban ketika mencari jodoh di tengah masyarakat patriakal yang merindukan darah perawan?
Keperawanan menjadi hal yang penting, dan direnggut paksa oleh orang yang bakal bertobat, dan Tuhan maha pengampun, sedangkan korban dibiarkan sendiri menghadapi hidup dengan masyarakat yg sering tidak siap merierima kenyataan bahwa tidak selamanya ketidakperawanan berkaitan dengan freesex? Yang di foto kiri juga tidak kalah mengerikan……..65 lelaki kecil dicabuli oleh lelaki santun di foto itu. Tidakakah akan mempunyai potensi korban akan melakukan hal yang sama sebagai siklus di masa depan? Karena lelaki itu juga mengalami hal demikian di masa kecil? Pertobatan di negri ini sering menjadi eskapisme aman dan nyaman bagi para penjuwahat, baik kelamin, politik maupun sosial.
Hidup detail detik perdetik ala fislafat eksistensialisme Sarte yang menutut hidup otentik dan bertanggung ajwab dikalahkan dengan “halah sudah tobat, sudah hijrah, sudah lahir baru” seperti korban sampe meninggal, mati dalam keadaan buwnu diyri dan kadang mati dalam keadaan berizina atau maksiyat dibaca lepas dari kaitan sebab akibat. Jadi teringat apa kata Ibn katsir dalam mengartikan “jangan dekati zina: sebagai “dosa terbesar setelah syirik adalah menumfahkan sperma ke dalam Rahim yang bukan haknya.”. Artinya, sebagai lelaki, konsekeuensi cruwot tidak semudah cruwotnya. Trumatim perkosaan, aborsi, dan pedofilia akan tetap membekas pada korban, dan pelaku yang lelaki akan dipeluk masyarakat dan (apakah juga Tuhan?).
Ah pepatah “sekali perempuan berbuat dosa, dunia akan menangis, dan lelaki ratusan kali berbuat dosa, dunia akan tetap tertawa”……..masih santer dan makin santer terdengar di sini, perempuan dan anak kcil akan tetap mrnjadi korbannnya.
Sumber : Status Facebook Bagus Hariyono











Comment