Oleh : Gunadi
Terlalu lama waktu harus ditempuh untuk menjadi sosok nomor satu di negeri ini bila jalan panjang harus menjadi Jenderal terlebih dahulu, memunculkan gagasan : Gubernur. Itu jembatan instan yang harus dibangun. Segera saja dia disetting menjadi DKI 1. Itu setara jabatan Jenderal bintang 3. Itu mimpi pertama ingin dijangkau sebagai lompatan luar biasa.
Segera saja gemilang prestasinya di militer dibuang demi kalkulasi itu. Pada sang ayah, terlalu pede bahwa hangat sisa jejaknya selama 10 tahun berkuasa masih punya pengaruh ternyata tak memberi bukti. Anaknya kalah bahkan dalam putaran pertama. Tamparan keras itu tak membangunkannya dari tidur. Mimpi terus berlanjut. Menjadi Ketum Partai dipilihkan. Itu sebagai tangga yang lain agar panggung Presiden tak lepas darinya. Menjadi masalah, dia terlalu minim catatan prestasi pada hampir semua aspek. Dia masih terlalu hijau.
Pilgub DKI 2017 sudah membuktikan itu. Bukan memperbaiki pondasi, dalam kalutnya dia justru membebani bangunan yang masih rapuh itu dengan membuat lebih dan lebih banyak lagi ruangan baru sebagai artificial. Dalam bingungnya dia memoleskan lebih banyak bedak pada wajahnya.Polesan aneh yang pernah diaplikasikan pada wajahnya dengan gelar turunan Majapahit yang sebenarnya sudah sangat berlebihan, justru dia rasakan masih terlalu tipis.
Predikat sebagai keturunan nabi pun dia poleskan lagi. Kini dia bergelar asli Majapahit sekaligus asli Arab
Tebal bedak itu terlihat aneh pada mata banyak orang, namun tidak bagi dirinya. Seterusnya, dia akan terjebak pada jalur itu. Kelak ketika trend gelar yang lain muncul dan itu dia pikir akan membuatnya terlihat makin hebat, dia hanya perlu menambahkan gelar itu lagi. Akan ada lagi orang bersaksi bahwa itu benar adanya.
Dia akan terus mencari imitasi baru, lagi dan lagi. Dari jauh, terlihat dengan jelas bahwa dia semakin tersesat. Selalu ada titik buntu pada setiap jalan yang dia pilih. Selalu ada salah arah dan harus berbalik lagi dan lagi. Bukan tak tahu arah ke mana dia ingin pergi, dia HANYA tak tahu apa yang menjadi keinginannya.
Meski tegap caranya berjalan dan berapi2 gaya bicara yg selalu masih ingin dia pamerkan, lelah sorot matanya mulai bicara, ” AKU BUKANLAH DIRIKU
“
Sumber : Status Facebook Gunadi











Comment