Kebencian
Status Tersangka Jonru Kurangi Fitnah di Medsos
Postingan orang sejenis Jonru telah menganggu sebagian program pemerintah. Presiden mendapatkan tekanan hebat karena sebagian KEBERISIKAN di medsos.
Penundaan pengaturan harga dan distribusi elpiji 3kg; penundaan kenaikan tarif listrik daya non subsidi (1300 dan di atasnya); penundaan kenaikan solar subsidi
Ketika Imam Umat Islam Meminta Maaf pada Pemimpin Agama Lain Seusai Berkhotbah Mengandung Kebencian...
Berbagi Warisan
Saatnya Menyerang, Presiden Jokowi!
Tapi Jokowi gagal pada sisi komunikasi. Seluruh kerja Jokowi sepertinya dikelambui oleh isu isu politik. Kerja Jokowi dikalahkan lawannya hanya dengan isu dan intrik politik. Mediapun lebih tertarik pada hal demikian. Seperti menonton Formula One, kebanyakan yang ditunggu penonton adalah tabrakannya darpada siapa pemenang balapannya
Fenomena Hater di Jagat Medsos
1. Sabar menanti kabar buruk yang menimpa orang yang dibenci (patient hater/ pembenci sabar menanti...sabar menanti??? koyo warung bakmi etan bangjo purwosari wae...
2. Berharap orang yang dibenci membuat kesalahan fatal sehingga ada momen untuk menjatuhkan
3. Dengan senang hati menyebarkan kesalahan orang yang dibenci
4. Senang dan antusias bergunjing dengan sesama pembenci (true hater/ pembenci sejati...dadi kelingan apotek jaman awal-awal praktek...Apotek Sehat Sejati...
Gejala Perang Suriah Sudah Terjadi di Indonesia
Sejarah Tak Mengajarkan untuk Membenci
Agama Islam ketika pertama kali diperkenalkan pada masyarakat Mekkah dan Madinah dulunya pernah mengalami penindasan yang luar biasa kejam. Umatnya disiksa, ditindas, dibunuh, diusir dari rumah mereka, diperangi, dan lain sebagainya. Apa yang dialami umat Islam pada saat itu sangatlah mengerikan. Saya tidak yakin bisa bertahan dalam kondisi yang demikian buruknya. Umat Islam juga dimusuhi dan dikhianati oleh umat beragama lain pada waktu itu, yaitu umat Yahudi dan Nasrani. Hal ini membuat umat Islam berperang melawan mereka.
Mengajarkan Kebencian Sejak Dini
Kita ini sibuk mengurus hal sepele dan melupakan bahaya yang lebih besar. Keliru bersikap, keliru pula dalam memproteksi.
Saya melihat KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) misalnya, absen dalam memberikan teguran pada aksi memalukan 313. Orang-orang itu mendandani anak-anak mereka layaknya teroris, menempelkan tulisan idiot di punggung mereka, "Kami kebal peluru." Padahal doktrin kekerasan (dan pembodohan) semacam itu jauh lebih berbahaya daripada memblur dada perempuan dan aksi kekerasan di televisi.
Kebencian Sudah Meracuni Dunia Anak-anak, Intimidasi Menimpa Anakku
Adanya ayat dalam kitab suci yang melarang memilih calon dari agama lain. Namun itu bukanlah ayat yang terputus, selalu dibarengi dengan klausul sebab dan penyebab serta deskripsi lanjutan yang bisa multitafsir. Sehingga satu tafsir tidak otomatis menjadi benar atau dianggap kebenaran mutlak, karena itu masih jadi rahasia Tuhan. Dalam agama islam, Al Qur’an merupakan kitab suci yang 80% isinya adalah kiasan, bukan substansi. Substansi dalam Al Qur’an hanya seputar larangan memakan sesuatu yang haram, disini mutlak tidak ada penafsiran lain.










