Yahudi Nasrani Ga Rela

Waktu kuliah di LIPIA mata kuliah tafsir kami pakai kitab Tafsir Fathul Qadir karya Asy-Syaukani (w. 1250 H). 
Dan penjelasan ayat di atas itu sebagai berikut :
وأخْرَجَ الثَّعْلَبِيُّ عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ قالَ: إنَّ يَهُودَ المَدِينَةِ ونَصارى نَجْرانَ كانُوا يَرْجُونَ أنْ يُصَلِّيَ النَّبِيُّ ﷺ إلى قِبْلَتِهِمْ فَلَمّا صَرَفَ اللَّهُ القِبْلَةَ إلى الكَعْبَةِ شَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وأيِسُوا مِنهُ أنْ يُوافِقَهم عَلى دِينِهِمْ.
فَأنْزَلَ اللَّهُ: ﴿ولَنْ تَرْضى عَنْكَ اليَهُودُ ولا النَّصارى﴾ الآيَةَ.
At-Tsa’labi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Yahudi Madinah dan Nashara Najran merasa senang Nabi SAW shalat menghadap ke kiblat mereka (Baitul Maqdis).

Namun ketika Allah SWT mengubah kiblat ke Ka’bah, mereka tidak suka dan putus asa, karena sudah tidak sejalan lagi. 
Turunlah ayat ini : 
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka (QS. Al-Baqarah :120)

Kalau di masa turunnya ayat ini tidak ada proses kristenisasi besar-besaran seperti yang saya sering ceritakan dalam pengajian zaman dulu. Juga tidak ada proses yahudi-isasi yang aneh-aneh itu. 

Ayat ini hanya menceritakan bahwa Yahudi Nasrani kala itu tidak terima karena Allah SWT mengubah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. 

Maklumlah, kan pamor mereka jadi berkurang. Kesannya umat Islam sudah tidak loyal lagi kepada mereka.

Padahal yang mengubah juga bukan Nabi SAW.  Beliau juga nggak pernah minta. Cuma berharap saja, pakai bahasa tubuh pula. 
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 144)

Kalau urusan ngeyel dari ketentuan Allah, Yahudi sih memang jagonya. 
Padahal perubahan kiblat kan hanya untuk umat Islam, bukan buat mereka. Kenapa mereka yang sewot?

Jadi ayat  ‘wa lan tardha’ ini lagi cerita sewotnya Yahudi Nasrani di masa kenabian. Sewot karena kita tidak lagi ibadah menghadap kiblat mereka. Itu saja. 
Kalau mau cek di kitab tafsir aslinya, saya punya link nya nih : https://tafsir.app/fath-alqadeer/2/120.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *