by

Wong Pelit, Kikir dan Bakhil

Oleh : Harun Iskandar

Dulu pernah ada berita, ndak tau bersumber darimana. Saya pun sudah lupa. Bahwa vaksin Covid-19, ada yang gratis dan ada pula yang mbayar.Langsung rame. Komen macem2 yang keluar. Harusnya gratis, intinya begitu.Begitu gratis ngomel lagi. Haram. Ada ‘chip’ yang dimasukkan. Dan lain-lain pokoknya, ndak mau ada vaksinasi, dan ndak mau divaksin . . .

Lalu muncul vaksin berbayar dengan istilah Vaksin Gotong Royong. Rame lagi . . .Padahal ‘Vaksin Gotong Royong’ itu dibeli oleh Perusahaan2 Besar untuk karyawannya. Karyawan mereka, kan manusia dan warga Indonesia juga . . .Masih ngeyel. Buruh perusahaan kecil atau pedagang kecil, kaki lima, bagaimana ? Teriak mereka . . .Lha ?! Kan ada yang gratis. Ribuan tiap hari asal mau ndaftar dan berani disuntik . . .

Sekarang muncul lagi berita akan ada ‘Vaksin Berbayar’, tapi untuk individu.Rame lagi. Bahkan ada yang komen, ‘Biadab !’

Kayaknya ndak pernah baca pidato Mendiang Presiden Amerika Serikat yang ke 35, JF Kennedy.Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu !Nah, kalau saya yang ‘merasa’ kaya dan punya duit, lalu pengen vaksin. Pilih yang mbayar, ndak mau gratis. Dimana salahnya ?Saya merasa Pemerintah butuh bantuan moril dan materiil dalam tangani Covid. Dan saya mau ‘coba’ mbantu, meski cuma sedikit.Saya bayar, misal setiap dosis vaksin, yang senilai 3 kali dosis vaksin. Dan nanti bisa untuk beli vaksin gratis. Dimana salahnya . . . ?

Memang salah kayaknya, seh. Jika dipandang dari kacamata orang Sirik, sekaligus orang yang Bakhil, Kikir, Pelit, Mêdhit methithil . . .Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed