Warisan Nawal El Sa’adawi

Dia menambahkan, “Perempuan Arab sendirilah yang dapat merumuskan teori, ide dan cara perjuangan yang dibutuhkan untuk membebaskan diri dari semua penindasan.  Upaya mereka sendiri yang dapat menciptakan wanita Arab baru, hidup dengan orisinalitasnya sendiri, mampu memilih apa yang paling asli dan berharga dalam tradisi budayanya, serta mengasimilasi kemajuan ilmu pengetahuan dan pemikiran modern … Wanita Arab seperti itu tidak akan  ragu-ragu karena mereka tahu bahwa, jika harga untuk membayar kebebasan mahal, harga perbudakan semakin berat. ” 

NAWAL menyampaikan pikirannya bukan hanya berdasarkan buku bacaan dan kuliah di universitas.  Melainkankan berdasarkan pengalamannya sendiri.

Pada usia enam tahun, dia merasakan sakitnya disunat – yang membuatnya trauma seumur hidup dan berjuang untuk mengapuskannya. Tradisi sunat perempuan sudah berabad abad di Mesir .

Nawal mengungkapkan kebiasaan sunat pada perempuan (biasa disebut ‘female genital mutilation’) bukan dari dari masuknya Islam.  Namun, nyatanya ia sudah terkenal dan tersebar luas di beberapa wilayah dunia sebelum era Islam, termasuk di jazirah Arab.  

Dalam penilaian Nawal, sunat perempuan sengaja dipaksakan kepada perempuan untuk menghilangkan gairah seksual perempuan, yang dipercaya oleh masyarakat, sama besarnya dengan laki-laki. 

“Demi mengekalkan sistem keluarga patriarkal, gairah seksual perempuan dibendung dengan jalan sunat klitoris, sabuk suci, dan semacamnya, agar tak ada anak-anak yang lahir dari laki-laki selain suami, yang mengganggu sistem nasab atau garis keturunan laki-laki.”

Pada usia 10 tahun,  dia dipaksa ayahnya untuk menikah, tapi dia menolak. Dan ibunya membela sampai dia kuliah dan meraih gelar dokter. 

Sebagai dokter,   dia banyak mewawancarai perempuan korban pelecehan,  penistaan dan penganiayaan dari keluarga akibat sistem patriaki yang melembaga bahwa perempuan makhluk nomor dua di keluarga dan masyarakat.

“Wanita Arab yang mengalami penindasan mental, seksual dan psikologis tidak memiliki alternatif lain selain mengorbankan tindakan … Kepasifan yang diamati pada wanita Arab oleh karena itu bukanlah karakteristik yang melekat atau bawaan, tetapi telah dipaksakan pada mereka oleh masyarakat … “

Dia mencatat, “Seluruh beban praktik kontrasepsi dalam masyarakat Arab berada di pundak wanita.  Dia diharapkan untuk menangani, sendiri, masalah seperti mendapatkan pil, meminumnya, dan menderita efek sampingnya ketika terjadi … ” ungkapnya.

“Jika salah satu metode ini gagal dan dia hamil, maka satu-satunya jalan keluar untuk  dia, jika dia tidak bisa menghadapi masalah anak lain, harus mencari aborsi ilegal … Atau jika dia pergi ke dokter yang baik, maka dia harus membayar harganya … yang tinggi karena aborsi ilegal, dan lebih banyak uang  bisa dibuat dari itu. ” 

MENOLAK PENUTUP KEPALA adalah komitmen dan perjuangan lain  Nawal El Saadawi,  selain menolak sunat untuk anak perempuan. 

“Tabir (jilbab,  niqab burqa, pen.) itu adalah produk Yudaisme jauh sebelum Islam muncul.  Itu diambil dari Perjanjian Lama –  di mana wanita dilarang untuk menutupi kepala mereka ketika berdoa kepada Yehuwa –  sedangkan pria dapat tetap telanjang kepala,  karena mereka telah diciptakan menurut gambar Allah … 

“Dari sini diikuti penyunatan bedah dan mental yang dilakukan pada anak perempuan dan  perempuan dalam masyarakat non-Islam dalam bentuk sabuk kesucian… dan dalam berbagai bentuk penindasan dan diskriminasi yang dilakukan terhadap perempuan sejak keluarga patriarkal lahir. ” 

Sabuk keesucian adalah celana dalam perempuan yang terbuat dari logam – ada kuncinya –  untuk memastikan para isteri tidak berhubungan seks dengan laki laki lain saat ditinggal perang oleh para suaminya. 

“Sejarah telah… secara keliru menggambarkan banyak fakta yang berkaitan dengan perempuan.  Wanita Arab tidak kekurangan kapasitas mental mereka… mereka juga tidak lemah atau pasif”.  

“Sudah waktunya bagi wanita Arab modern untuk mengingat wanita lain yang tinggal di wilayah yang sama 1.300 tahun yang lalu … dan memiliki keberanian untuk menolak dan memprotes. ”  

“Pekerjaan wanita di luar rumah tidak dengan sendirinya mengarah pada pembebasan sejati wanita selama itu terus beroperasi dalam kerangka masyarakat kelas dan di bawah sistem patriarki.” 

Agama Islam sering disebut sebagai agama pembebas dan kini dianut oleh mayoritas warga negara di jazirah Arab. Namun selama 13 abad rentang usainya tak kunjung mengubah budaya patriarki yang menindas perempuan di sana.

Sampai abad 21 ini perempuan di Arab tetap ditindas. Direndahkan. Dijadikan makhluk klas dua. 
Bahkan diskriminasi ala Arab dan Mesir diimpor ke Indonesia seperti larangan keluar malam di wilayah Nangroe Aceh, naik motor ngangkang di Padang, Sumatera Barat,  dan kewajiban menutup kepala di wilayah wilayah yang menetapkan syariah. Sementara aturan itu tidak berlaku bagi laki laki. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *