Wacana Tidak Penting Untuk Umat 212

WACANA PADAT KARYA. Proyek Infrastruktur yang padat modal, bukan padat karya. Kalau umat 212 jeli, tentu bisa mengkritisi maraknya proyek infrastruktur jalan, bandara, pelabuhan, bendungan dan sebagainya yang dibesut Jokowi namun abai mempekerjakan masyarakat secara penuh.

Memang disadari, untuk mempercepat penyelesaian proyek diperlukan modal yang besar. Apalagi kalau targetnya adalah penyelesaian sebelum Pemilu 2019. Namun proyek-proyek megah seperti ini lalai memberdayakan masyarakat banyak yang tentu perlu pekerjaan dengan imbalan yang besar.

Apakah issue penyerapan tenaga kerja itu disampaikan dalam reuni 212 kemarin? Sepertinya tak ada gaungnya.

WACANA KASUS HUKUM NOVEL BASWEDAN. Ini adalah ujian untuk Jokowi sebenarnya. Sudah setahun berlalu namun pelaku kekerasan atas Novel Baswedan seperti raib ditelan berita lain. Padahal, penyidik senior KPK ini adalah ikon pejuang anti korupsi yang paling kentara di mata masyarakat.

Di reuni 212, ada keluarga Novel Baswedan, yakni Gubernur DKI Anies Baswedan yang jelas-jelas naik ke posisi 01 di DKI karena bantuan para pendemo monas. Sayang, di forum besar ini, Anies dan pentolan 212 gagal membawa wacana kasus Novel Baswedan ini meruak ke permukaan.

Kasus Novel Baswedan kalah tenar dari kasus-kasus receh berupa ujaran kebencian oleh Ahmad Dhani dan Bahar Smith. Padahal, kalau digedor-gedor terus akan cukup memojokkan pemerintahan Jokowi.

WACANA INTOLERANSI. Ini wacana yang maju kena mundur kena, seperti makan buah simalakama. Semua tahu reziom Jokowi hanya focus ke proyek infrastruktur. Tapi konon abai pada persoalan konflik horizontal di masyarakat.

Jokowi konon tak begitu memprioritaskan penyelesaian kasus-kasus intoleransi, sehingga anda tak bisa mengharapkan lebih banyak tentang nasib kaum Ahmadiyah, pengungsi muslim Syiah dan sebagainya.

Jokowi dianggap tak mereken kelompok-kelompok minoritas itu karena tak punya efek besar ke Pilpres 2019. Sebaliknya bisa menggerogoti suara di kalangan masyarakat muslim tradisional.

Namun tentu saja kelompok 212 tak bisa diharapkan menggagas wacana intoleransi ini ke muka Jokowi. Karena sebagian besar dari mereka adalah juga pelaku intoleransi itu sendiri. Susah.

WACANA SAWIT RAKSASA dan masalah EKONOMI lainnya. Umat islam, khususnya kelompok 212 ini perlu juga mengangkat kasus-kasus pelebaran hutan sawit yang dikuasai hanya sebagian kelompok orang kaya ini. Pohon sawit jelas bisa membantu penghasilan Negara, namun sayang perkebunan sawit malah mempersempit gerak agrobisnis yang lain.

Teramat sulit mencapai swasembada beras, atau mengurangi impor beras kalau lahan-lahan pertanian dan hutan disulap menjadi lahan sawit yang boros air.

Karenanya umat 212 perlu meng-ultimatum pemerintah agar mengembalikan lahan tersebut menjadi sawah dan lahan yang lebih mampu mememnuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Apakah wacana-wacana itu penting untuk umat? Saya kira iya, karena pengaruhnya sangat meluas. Juga, wacana-wacana ini bisa menjadi bahan dialog yang berkualitas tinggi menghadapi pasangan inkumben yang selalu getol mempertontonkan prestasi proyek infrastrukturnya.

Tapi sayang memang, kualitas oposisi kita hanya kaya oleh persoalan identitas. Issue-issue penistaan agama, anti-Islam, rezim komunis, pro-Aseng, menjadi wacana paling marak yang dikedepankan juru kampanye mereka di podium-podium, juga sosmed.

Jadi mengharapkan wacana-wacana berbobot macam di atas akan seperti merindukan bulan di siang hari yang terik. Di atas Monas pulak.

Anyway, buat teman-teman umat 212 yang sudah selesai ber-reuni, semoga tiba di rumah dengan selamat. Kembali ke keseharian, bergulat dengan hidup. Politik ini receh dan remeh, ngga lebih penting dari bagaimana asap periuk dapur Anda mengebul hari ini dan esok.

Sumber : Status Facebook Wasil Belian

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *