Ustadz Yang Makin Jauh Dari Agamanya

Sampai di sini, hoax sama sekali tak mendapatkan ruang kesahihan dalam berceramah, berkhutbah, dengan dalih apa pun. Hoax adalah keburukan, kerusakan. Hoax adalah dzannun, sumber pemecah-belah umat.

Maka siapa pun dainya bila menukil hoax dalam ceramah atau ucapannya dalam media apa pun, dapat disimpulkan bahwa ia bukanlah bagian dari ulama. Surat Yunus mendefinisikan ulama sebagai: innama yahsyalLaha min ‘ibadihil ulama, sesungguhnya ulama pasti takut sama Allah….

Ketika Allah melalui banyak ayat al-Qur’an melarang keras kita berprasanga, berhoax, apa gerangan kepantasan bagi kita untuk masih saja menukil dan menyebarkannya jika di hati kita benar-benar ada rasa takut kepada Allah Swt?

Lagi-lagi, baiklah, semua orang pastilah pernah silap, khilaf, dan lalai. Manusiawi. Semua orang yang pernah terjatuh pada sebuah kesilapan, selama masih hidup, selalu terbukalah baginya pintu untuk bangkit, reborn, dan kembali ke jalan yang semestinya.

Namun kiranya hal ini jangan pernah menjadikan kita ‘kewanen’ (terlalu berani) untuk gegabah menabalkan diri sebagai ustadz, guru, penceramah, bila keilmuan kita masihlah ala kadarnya (mari kita perdalam dan perluas lagi) dan keteladanan nyata kita dalam rupa arif bijaksana belumlah memadai untuk dituntunkan kepada khalayak (mari percantik lagi iman, kesalehan, dan akhlak sosialnya). Ini mutlak bagi siapa pun yang tampil sebagai pandai, penceramah, bahkan khatib Jum’at dalam skala kampung kecil sekalipun. Mengapa?

Sebab tanggung jawab kita secara moral kepada mutu kebudayaan dan peradaban umat ini sangatlah besar, melampaui personal muslim awam yang bertaklid belaka. Dan, apalagi di hadapan Allah Swt kelak.

Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ Ulumiddin, jilid pertama, menasihatkan dengan menukil hadis Nabi Muhammad Saw: “Inna asyadda ‘adzaban yaumal qiyamah ‘alimun lan ya’fa’hulLahu bi’ilmih, sesungguhnya orang yang paling pedih azabnya di hari kiamat kelak ialah orang berilmu yang ilmunya tidak Allah Swt hantarkan untuk menuju kepadaNya Swt.”

Dengan kata lain, orang yang berilmu, berceramah, namun ilmunya tak menjadikannya makin dekat kepada Allah Swt, makin menjauhkannya dari larangan-laranganNya, dialah orang yang akan sangat pedih azabnya kelak di akhirat. Nau’udzubillah min dzalik.

Semoga kita semua kelak, para ustadz kita, khatib kita, guru kita, dan pula diri kita, senantiasa diampuni oleh Allah Swt, diberiNya petunjuk dan pertolongan, hingga kelak kita menghadapNya dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

Sumber : Status Facebook Edi Mulyono

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *