Urgensi Frasa “Agama” Dalam Peta Jalan Pendidikan Indonesia

Setelah diganti, tentu saja seolah-olah protes kalangan “agama” sudah diwujudkan. Hal ini mempersulit kritik lainnya untuk mendominasi percakapan publik karena masyarakat sudah kehabisan energi untuk memikirkan kata “agama” yang hilang. 

Sementara itu industrialisasi pendidikan semakin menguat, otonomi guru makin melemah, kemudian sekolah dan pembelajaran ditembus oleh pasar melalui proses yang radikal. 

By the way, konon netizen Indonesia yang dinobatkan sebagai warga negara paling tidak sopan seAsia Tenggara menunjukan bahwa ada kekurangan “Ahlak”. 

Mungkin, Peta yang dibuat sebelum muncul hasil survei tingkat kesopanan netizen Indonesia ini sudah memprediksi bahwa ahlak lebih penting dari agama. Sebab jika hanya “beragama,” seluruh rakyat Indonesia, bahkan yang mulutnya kotor-kotor, jelas memiliki kolom agama di KTP nya masing-masing. 
Mengembalikan “frasa” agama ibarat pengisian kolom “agama” di KTP. Diisi atau tidak sekalipun tidak berkorelasi langsung dengan Ahlak netizen Indonesia.
Sumber : Status Facebook Iman Zanatul Haeri

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *