Ungkap Penumpang Gelap Dalam Kasus 4 Nakes di Pematang Siantar

Menjadi tak kondusif, karena hadirnya pihak ke tiga. Bermula daru beredarnya foto dan video atas pengurusan jenasah tersebut, cerita berkembang menjadi liar.
Suara pertama muncul hanya berselisih 3 hari sejak kejadian tersebut. Pada 23 September MUI setempat menegur dan memanggil direktur rumah sakit umum milik pemerintah itu untuk meminta penjelasan.
Pihak Rumah Sakit akhirnya menyatakan permintaan maaf pada 28 September yakni 5 hari sesudah teguran tersebut.
Bukan selesai didapat, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia, Gerakan Pemuda Al Wasliyah bersama ormas Islam lainnya justru mendatangi kantor wali kota di Jalan Merdeka.
Ketua Gerakan Pemuda Al Wasliyah Pematangsiantar menyampaikan delapan tuntutan. Salah satunya adalah mengganti dr Ronald Saragih sebagai Direksi RSUD dr Djasamen Saragih dan Kepala Dinas Kesehatan.
Bak gayung bersambut, gerakan lebih besar yakni aksi aksi organisasi mahasiswa pun terjadi pada 29 September dan dilakukan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kalimat penistaan agama muncul di sini.
Terakhir, massa dalam jumlah lebih dari seribu berkumpul di Lapangan Haji Adam Malik. Aksi ini ini dhadiri oleh tokoh dan organisasi Islam seperti HMI, BKPRMI, Majelis Ta’lim Mahabbaturosul SAW serta tokoh muslim dan ratusan warga lainnya.
Akibat demo besar tersebut, Wali Kota akhirnya mengumumkan pemecatan direktur dan 3 wakil direktur Rumah Sakit tersebut. Demikian pula dengan Kapolres yang harus berusaha meredakan demo tersebut dengan mengatakan bahwa atas kasus tersebut, 4 terlapor sudah diproses dan status sudah ditingkatkan pada tahap penyidikan.
“Kemana cerita ini akan di bawa?”
Ingat demo besar-besaran di hampir seluruh Indonesia dan terjadi pembakaran di Jogja, Jakarta dan banyak kota lain pada 8 dan 9 Oktober 2020?
Ya.., demo UU Ciptaker.
Demo dalam sekala massif hingga negara harus sangat hati-hati cara penanganannya demi kondusif kita bersama.
Artinya, sangat naif bila kita tak merujuk pada cerita itu saat melihat peristiwa Pematang siantar.
Artinya, sangat konyol bila kita mengatakan bahwa kejadian Pematang siantar tak terhubung dalam sekala yang lebih besar lagi yakni rusuh nasional dalam rangka membuat negara ini lumpuh.
Artinya, ada grand design, ada para kreator bermain di sana, dan maka untuk sesaat negara harus mengalah.
“Maksudnya, 4 orang tenaga kesehatan itu cuma jadi tumbal?”
Tak ada orang yang benar-benar ingin ibu Meliana di penjara. Mereka hanya ingin memanfaatkan cerita Ibu Meliana itu sebagai batu pijakan dan maka Tanjung Balai lumpuh.
Bukan Ahok mereka ingin hajar dan maka demo 212 menemukan momentum tepat bagi Jakarta tumbang.
Demikian pula demo Ciptaker dan peristiwa Pematang Siantar dimaknai sebagai pembuka, ke 4 orang tenaga medis itu hanya alasan antara.
Semuanya mengarah pada RI1. Semua tertuju pada bagaiman caranya Presiden tumbang dan semua korban hanya batu pijakan.
“Trus bagaimana nasib 4 nakes itu?”
Itulah tugas kita rakyat yang cinta NKRI bersuara dan terus bersuara.
Benar efpei sudah tumbang, namun jumawa sikap kita atas peristiwa itu dan kita kendor, hanya akan membuat mereka bangkit kembali bahkan dengan sosok yang lebih besar lagi.
Teriak sekuat kita mampu. Tulis sebanyak kita bisa. Mereka yang masih berteriak dalam demo dan menuntut 4 nakes tersebut diadili adalah mereka yang masih melihat peluang adanya korban penistaan agama.
Dan ini adalah tentang moment atas apa yang mereka ingin kembali hidupkan.
“Iya, tapi ga adil dong kalau perkara itu terus dilanjutkan di Pengadilan?
Proses adalah proses. Sistem itu harus dilalui demi proses itu sendiri. Sidang dalam Pengadilan adalah tentang beradunya saksi dan bukti. Dalam sidang di Pengadilan itu pula semua akan dibuka.
Bukankah banyak hal tak logis kenapa cerita sederhana berubah menjadi penistaan dan track record mengatakan bahwa tuntutan berwarna seperti ini adalah cara-cara mereka biasa gunakan?
Keterkaitan kenapa negosiasi antara pelapor dan Rumah Sakit yang sudah sepakat tiba tiba berubah menjadi laporan pada Kepolisian dan fakta demo yang terjadi 3 kali dan makin besar pasti memiliki benang merah.
Dengar-dengar, ada loh kaitan sama si tukang nyinyir paling hebat nomor 1 di dunia di mana dia pernah duduk di M*I pusat.
Di sana, benang merah atas kasus ini harus kita bongkar. Jangan demi nafsu bejat mereka, tenaga medis dan pahlawan kita hari ini justru negara korbankan.
Kawal kasus ini demi NKRI kita bersama.
.
.
RAHAYU
.
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *