by

Ultah Si Manusia Istimewa

 

Sepak terjang Ahok, bersama Jokowi yang menjadi gubernur DKI Jakarta waktu itu 92012), semakin menegaskan siapa sebenarnya ketika dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, meneruskan jabatan Jokowi yang dilantik sebagai Presiden RI (2014).

Sebagai pejabat pemerintah, ia lugas, spontan, dan tak takut kehilangan selera humor. Banyak melakukan perubahan, meski karena itu mengundang banyak musuh. Beberapa musuhnya menyebut si raja tega, atau tukang gusur. Namun Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang tanpa kompromi. Karena kenyataan di lapangan, berbeda dengan persepsi para pejuang demokrasi dan HAM, yang sering menuding Ahok tidak pro-rakyat dan lebih pro pengusaha. Sesuatu yang kelak terbukti sebaliknya. Para penudingnyalah yang ternyata berkomplot dengan para penguasa dan pengusaha hitam.

Musuhnya bukan saja dari DPRD Jakarta, melainkan juga centeng, para preman yang menguasai tanah-tanah liar, para pengusaha (baik yang disebut China maupun pribumi), dan bahkan staf jajarannya di segala lini Pemda DKI, yang selama ini berada dalam comfortable zone mentalitas korup.

Namun di jaman post-truth ini, kinerja Ahok bisa berbalik memukulnya. Gerakan perlawanan yang massif dan terstruktur, dari lawan-lawan politik, atau mereka yang tak senang dengan kinerjanya, pun menemukan pintu rahasia. Yakni melalui politik identitas yang digagas Eep Syaifullah Fatah, konsultan politik Anies Baswedan, kompetitor Ahok dalam Pilkada DKI 2017.

Momentum penggusuran Ahok, meledak dengan postingan Buni Yani soal ucapan dibohongi ‘pakai’ Al Maidah 51. Dan terbuktikan, dalam Pilkada DKI 2017 lalu, Ahok tumbang oleh isu SARA dan ujaran kebencian, serta hoax.

Ahok adalah orang besar, karena itu musuhnya juga tidak sedikit. Ia kini mendekam di penjara Mako Brimob Depok, dengan vonis 2 tahun untuk ‘kasus penistaan agama’.

Selamat ulang tahun ke 51 Ahok (lahir di Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966), martir demokrasi Indonesia. Untuk sementara engkau dikalahkan oleh maraknya politik identitas yang penuh ujaran kebencian, hoax, dan hasutan SARA. Meski dalam penjara, engkau menjadi underground, yang akan terus menjadi bayang-bayang menakutkan, bagi mereka yang mempraktikkan politik keculasan.

Ahok akan tetap hidup dalam spirit penegakan negara demokrasi Indonesia. Ia menjadi monument sekaligus dokumen perjalanan demokrasi kita yang masih acakadut.

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed