by

Tuan yang Merasa Tuhan

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Tahukah kita bahwa Internet sebagai kebutuhan sehari-hari saat ini sebenarnya sudah ditemukan sejak tahun 1961? Dan kemudian dipakai oleh Departemen Pertahanan Amerika di tahun 1969 dengan nama ARPANET (Advanced Research Project Agency Network). Setelah itu baru pada 1973 diperkenalkan secara global di University College London dan berujung pada versi komersil yang sebelumnya hanya untuk keperluan militer saja.

Maksud saya menceritakan sejarah internet diatas, bahwa sebuah penemuan yang sudah dipublikasi apalagi bersifat komersial berarti sebenarnya ia sudah “usang” bagi Tuannya. Artinya bisa jadi saat ini dunia militer sudah memiliki teknologi yang sudah jauh melampaui internet namun belum dipublikasi apalagi dikomersilkan. Begitu pula dalam dunia kesehatan dimana tahun 2020 lalu, dunia dihebohkan dengan penemuan CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats) dan berujung Hadiah Nobel. Mereka adalah Emmanuelle Charpentier dari Max Planck Unit for the Science of Pathogens Berlin, Jerman dan Jennifer A. Doudna dari University of California Berkeley, Amerika Serikat.

Penemuan keduanya telah mampu mengubah atau mengedit DNA mulai hewan, tanaman bahkan sampai mikro organisme. Penemuan ini membuka peluang besar bagi pengobatan penyakit kronis ataupun genetik seperti HIV dan Kanker yang sulit disembuhkan hanya dalam waktu singkat dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Jika merujuk pada sejarah penemuan Internet yang sebelumnya adalah teknologi militer, maka tidak menutup kemungkinan bahwa CRISPR yang sudah dipublikasikan dan bahkan saat ini mulai ditawarkan sebagai metode pengobatan Covid-19, sebelumnya juga “ranah” militer. Lalu, kapan teknologi ini sebenarnya sudah ditemukan? Saya tidak bisa menjawab kapan persisnya.

Namun kita akan flashback dulu beberapa tahun ke belakang. Pada tahun 2014, Lembaga Investasi terbesar di dunia bernama BlackRock telah membeli saham Pfizer dan Astra Zeneca yang di kemudian hari dikenal sebagai produsen Vaksin Covid-19. Keduanya menggunakan bahan dan metode rekayasa genetika yang tidak jauh dari CRISPR. Yang satu menggunakan mRNA virusnya, sedang satunya menggabungkan unsur dari dua virus yaitu Coronavirus dan Adenovirus sebagai bahan dasar. Berlanjut setahun kemudian pada tahun 2015, pemilik BlackRock yaitu Rothschild beserta dinastinya telah mematenkan system dan metode testing Covid-19 dimana alatnya sekarang dipakai oleh dunia untuk tracing penderita.

Kemudian pada awal 2019 atau setahun sebelum terjadi Pandemik, (aneh bukan?) Kongres AS telah mengajukan RUU penanganan Covid-19 yang dinamakan dengan CARES-Act (Coronavirus Aid, Relief, and Economic Security Act). Dan anggaran untuk ini setidaknya senilai $ 2.3 Triliun.

Kini yang mengejutkan adalah, CRISPR mulai ditawarkan sebagai metode untuk menyembuhkan manusia sebagai solusi pengobatan Covid-19. Sebuah penyakit yang berpotensi menginfeksi sebagian besar manusia di muka bumi karena berasal dari keluarga Coronavirus yang mudah menular. Dan bisa dibayangkan berapa potensi kapitalisasi yang didapatkan dari Tracing, Vaksin hingga Healing bagi pandemik ini. Dan kini Umat Manusia sudah terdesak pada pilihan yang seolah tak dapat dihindari.

Dengan melihat rentetan dan benang merahnya, yaitu perjalanan penemuan CRISPR sebagaimana Internet, kembali pada pertanyaan yang harus dijawab yaitu, apakah Bioteknologi ini sebelum dipublikasi dan dikomersilkan, sebenarnya adalah domain Militer (baca: senjata biologi) dan sudah lama ditemukan sebagaimana pada Internet? Bisa jadi, karena cara kerja “Edit DNA” ini sebenarnya pertama kali telah ditemukan tahun 1987 oleh Yoshizumi Ishino pada bakteri Escherichia Coli. Jika melihat profil para “aktor” seputar Covid-19 dan CRISPR, yang dimulai peneliti dari Jepang, diteruskan oleh orang Jerman dan Amerika, kemudian penemu dan peneliti vaksinnya dari Turki bahkan Indonesia. Lalu untuk kepentingan siapakah semua ini?

Untuk menjawabnya, bisa dengan kerangka berpikir “Siapa Memanfaatkan Siapa”. Ada “Invisible Hand” yang bisa mengatur banyak negara sesuai keinginannya. Berusaha membuat seluruh Umat Manusia patuh dan tunduk dengan kehendaknya. Dalam kajian Eksaktologi Islam, ia disebut sebagai Dajjal. Dalam perspektif Geopolitik juga disebut Thanos. Bisa jadi ia adalah sebuah entitas dinasti. Dimana salah satu yang menjadi cirinya yaitu anggota keluarganya hanya akan menikahi saudaranya sendiri yang hakekatnya bukanlah sebuah pernikahan. Itulah kenapa Dajjal digambarkan sebagai sosok yang jomblo .https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1364487827278408&id=100011516113440

*FAZ*#SILIT

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed