Tonggak Kecerewetan Rakyat

Dulu di masa Ahok, reaksi keras datang kalau terkait isu penggusuran, reklamasi. Reaksi ini juga penting, memberi rambu-rambu bagi pemimpin. Kalau saja Ahok kalah karena isu ini misalnya, kita semua masih ayem, worth lah isunya untuk menjatuhkan (walau publik terbelah karena isu ini sebenernya sangat debatable, tidak hitam putih, bahkan dari kacamata ilmiah). Alas (sayang sekali) Ahok jatuh karena isu penistaan agama, menyisakan ingatan panjang bagi sebagian kita betapa membingungkannya keber-agama-an sebagian muslim. Dan tentu perlawanan panjang setelahnya, which is sehat bagi pertarungan discourse di komunitas muslim.

Jatuhnya Ahok karena isu agama dan menangnya Anies karena sentimen Islam katanya menandai kebangkitan populisme, dalam hal ini populisme agama, tekanan massa karena isu-isu populis semacam agama. Ada dugaan bahwa template ini akan digunakan juga di pilkada daerah lain. Tapi reaksi “soal pribumi” kemarin menunjukkan perlawanan keras masyarakat, terutama tentu kelas menengah, yang gak suka dengan digunakannya template-template ini. Ke depan saya duga kecerewetan masyarakat Jakarta tentang ini akan setara dengan kecerewetan pada Ahok tentang penggusuran dan reklamasi lalu. Anis akan sulit melakukan kebijakan-kebijakan balas budi bagi votersnya kalau bersifat diskriminatif atas dasar agama misalnya. Tonggak baru “kecerewetan rakyat” dibangun, kali ini untuk isu-isu intoleransi. Melengkapi isu korupsi dan ketidak-adilan ekonomi yang sudah jadi pakem kecerewetan rakyat sebelumnya. Bukankah ini baik?

Kutipan pidato mas Anies karenanya jadi relevan: “Jakarta adalah ibukota, maka selayaknya ia menjadi cermin dari etalase semangat..”. Dalam hal ini semangat rakyat, untuk menolak populisme dangkal primordialisme (agama atau ras). Semacam arus balik perlawanan atas populisme dangkal. Pelan-pelan, kecerewetan (yang harus kita bantu arahkan untuk isu-isu krusial) macam ini, di Jakarta dan banyak daerah lain, mulai berfungsi jadi kriteria seleksi sehingga menghasilkan dan mengasah pemimpin-pemimpin daerah yang bagus semacam Nurdin, Azwar Anas, Emil dll. Emil misalnya, pemimpin yang bagus, tapi publik mencereweti karena sifatnya yang “beautifikasi”. Ini juga semacam tonggak kecerewetan: jangan kebanyakan beautifikasi yang sekilas memang bagus, fokus dong di masalah mendasarnya macam reformasi birokrasi, walau memang sulit dilihat (intangible) tapi penting banget untuk perbaikan sistem. Suara kecerewetan ginian memang masih sayup, bersaing dengan kecerewetan yang gak penting, tapi disitulah peran kita, peran Anda.

Jadi, tetaplah cerewet. Tapi bantu arahkan ke isu-isu yang krusial.

————–

Buat mas gubernur:

Tuan, jangan makan senjata..tajem lho

Sumber : Status Facebook Chitra Retna S

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *