by

Tips Masuk Surga Melalui Jalur Selatan

Oleh : Haryo Setyo Wibowo

Mencintai manusia yang menjadi “bayangan Tuhan” seperti Nabi Muhammad tidaklah semudah mengatakannya melalui lisan atau tulisan. Dua hal yang tak pernah kita pahami benar, itu murni dari hati dan pikiran kita yang bersih atau bukan. Ujiannya terlampau banyak diabaikan. Banyak penganut Islam meyakini bahwa umat terbaik itu ada di masa hidup Nabi Muhammad. Rasanya pasti luar biasa. Bayangkan saja, bisa hidup berdampingan dengan “kitab suci yang berjalan”.

Pertanyaannya, “Apa modal kita untuk iri? Apa yang membuat kita seyakin itu kalau hidup di masanya dapat mengimaninya tanpa takut dan kuatir?” Hidup sejaman dengan rasul artinya harus siap jadi minoritas di awal. Hidup sejaman dengan manusia yang kita yakini membawa perintah Allah, harus siap dihakimi mengikuti “orang gila”. Pendek kata, siap diperangi dan siap berperang.Tidak mudah! Besar kemungkinan justru kita menjadi antek mayoritas. Memilih berselisih dengan minoritas. Coba saja kita renungkan…Tak sedikit orang di hari ini yang gagal ke luar dari amarahnya, ketika keyakinannya disangkal orang lain dengan pertanyaan yang sifatnya “menguji”. Semakin kita berusaha menjawab, mendebat, defensif, orang yang mempertanyakan akan semakin mencibir.

Familiar?Satu contoh, “bagaimana kamu bisa meyakini agama yang menganjurkan kekerasan, memerangi, dan bahkan membunuh orang yang dilabeli kafir, sementara Islam kerap digemborkan sebagai agama yang rahmatan lil alamin?” Sejatinya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa kita abaikan. Tak penting untuk dijawab, apalagi berlagak memberikan konteks yang tidak kita ketahui dengan baik. Untuk apa memperdebatkan hal-hal yang bakal menampakkan diri lebih rendah, nirfaedah?

Obsesi spiritualitas kita hari ini, seharusnya sudah pada tahap tidak lagi mengatakan (secara demonstratif); “Islam adalah agama paling benar”“agama yang paling bisa memberikan rahmat kepada alam”“tak seperti agama lain yang bingung dengan konsep ketuhanannya.”Hal-hal seperti itu suka tidak suka berpotensi menciptakan kerentanan beragama. Orang jadi mudah curiga. Orang jadi semakin bingung hendak menuhankan apa. Sementara cara nabi mengajari umat untuk mencintai tuhannya bisa dikatakan sangat sederhana. Misal soal kehidupan selanjutnya. Disabdakan oleh nabi bahwa manusia “hanya” bisa masuk surga karena rahmat dan karuniaNya. Bukan oleh amalnya! (Please jangan didebat itu sumber sahih atau bukan. Pokoknya saya meyakini yang penak-penak begitu)

Bagi saya, itu mengandung pengajaran sangat tinggi. Manusia tak dibenarkan kemlinthi. Sombong dalam menghitung amalnya, apa lagi sampai mengurusi orang lain yang dalam pandangannya kurang amal, jauh dari ibadah. Terdahsyat tentu saja saat nabi mengatakan lanjutannya, “termasuk Aku”. Bukan main. Junjungan umat islam yang diyakini dijaga dari dosa (dipastikan masuk surga), sampai memberikan rasa percaya diri ke umatnya sedemikian rupa.Bagi orang islam, modal masuk surga “cukup memegang jubah Kanjeng Nabi”. Tentu saja maknanya luas dan tidak mudah. Laku jadi manusia yang baik tetep perlu diperjuangkan. Itu tidak mudah.Satu yang pasti, Nabi sudah mengatakan bahwa surga jelas hak prerogatif Allah.

Tapi terlalu jauh kalau bedes kaya saya modal “masuk surganya” mau pegangan jubah nabi. Saya sih cukup ngincer mau pegangan celana levis-nya Mas Edi. Orang yang sangat sregep banget maulidan.***Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Sumber : Status Facebook Haryo Setyo Wibowo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed