by

Tidak Semua Hadits Shohih Diamalkan

Mengingat Nabi SAW sama sekali tidak pernah berbicara dalam Bahasa Indonesia, kira-kira ngomong pakai bahasa Indonesia apakah jadi bid’ah, haram, berdosa, masuk neraka? Karena kita tidak mengamalkan ‘sunnah’?

Coba pikirkan, pasti ada begitu banyak hadits shahih yang tidak perlu diamalkan isinya begitu saja. Karena fakta-fakta yang diungkap tidak secara otomatis jadi hukum yang berlalu buat kita.

Kalau menu makanan pokok Nabi SAW sehari-hari itu roti, jelas haditsnya shahih banget. But, apakah kita jadi haram makan nasi, soto, pecel, gado-gado, lontong, jengkol, mie ayam, dan teman-temannya?

Tentu jawabannya tidak. Walaupun hadits bahwa Nabi SAW makan roti itu shahih, tapi secara hukum hadits itu tidak mengharamkan kita makan nasi dan juga tidak mewajibkan kita makan roti. Hadits itu cuma sekilas info saja.

oOo

Lalu apa saja latar-belakang sehingga sebuah hadits shahih menjadi tidak perlu diamalkan? Ada banyak sebabnya, seperti hal-hal berikut ini :

1. Mansukh

Misalnya karena statusnya secara hukum sudah mansukh. Maksudnya ada hadits shahih lain atau bahkan ayat Al-Quran yang memansukhkannya.

Hadits bolehnya nikah mut’ah alias kawin kontrak itu shahih seshahih-shahihnya. Bukhari Muslim kompak meriwayatkan secara shahih.

Tapi, beranikah Anda kawin kontrak di hari ini? Jajalin aja kalau berani. Kan haditsnya shahih. Bukankah semua hadits shahih itu wajib diamalkan? Nah itu shahih, kok nggak berani mengamalkan?

Sampai disini paham, kan?

2 Sunnah Tasyri’iyah

Kadang bisa juga karena yang disebutkan dalam hadits shahih itu sunnah yang tidak terkait dengan ranah tasyri’iyah. Seperti kasus buang hajat di padang pasir, cebok pakai batu, dan lainnya.

3. Khushushiyyah

Dan bisa juga karena hadits shahih itu terkait ranah khushushiyyah Nabi SAW, dimana sunnah itu hanya boleh dilalukan Beliau SAW dan buat kita justru hukumnya haram.

Contohnya Nabi SAW berpuasa wishal siang malam tanpa berbuka. Kita? Haram hukumnya.

Nabi SAW juga menikahi wanita (Zaenab ra) tanpa wali dan saksi. Kita? Ya haram banget lah.

Nabi SAW menikahi 9 istri sekaligus. Menikahi 9 istri jelas-jelas sunnah nabi SAW. Haditsnya shahih semua. Buat kita sebagai ummatnya bagaimana?

Silahkan saja nekat menikahi 9 istri dengan alasan ikut sunnah, justru kita malah masuk neraka jahannam dibakar hidup-hidup.

Jangan bilang, wong mau ikut sunnah kok malah dibakar?

4. Gaya Bahasa

Kadang gaya bahasa hadits itu tidak boleh dipahami secara harfiyah. Kita menemukan hadita shahih yang memerintahkan kita untuk membunuh nyawa orang.

Salahnya apa?

Sepele banget kesalahannya. Ternyata cuma gara-gara dia lewat di depan kita, pas kita lagi shalat.

Malah ada hadits shahih yang memerintahkan kita untuk membakar rumah orang. Bayangkan, agama mengajarkan kita bakar-bakar rumah orang. Memangnya salahnya apa kok rumahnya sampai kudu dibakar?

Ternyata gara-gara penghuninya tidak shalat jamaah. Dan haditsnya shahih seshahih-shahihnya.

Terus bagaimana? Di komplek tempat kita tinggal, banyak banget rumah yang penghuninya tidak pada jamaah ke masjid.

Apa perlu kita siram bensin dan kita bakar saja semuanya sekalian dengan orangnya hidup-hidup? Bukankah begitu menurut hadits shahih-nya?

Jawabnya tentu tidak.

Karena meski Nabi SAW bilang begitu, ternyata belum pernah ada kasus pembakaran rumah di Madinah di masa kenabian. Padahal yang tidak berjamaah ke masjid juga banyak. Jadi jangan dipahami secara harfiyah ya.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed