by

Tetiba Saya Rindu Habibie

Oleh : Muhammad Ilham Fadli

Salah satu yang membuat saya sedih di akhir tahun 1999, ketika membaca berita bahwa Laporan Pertanggungjawaban BJ. Habibie di tolak oleh SU MPR. Walau saya setidaiknya bisa memahami “suasana bathin” politik yang berkembang masa itu (Habibie dianggap memiliki “DNA” Orde Baru). Tapi tak bisa saya pungkiri, sejak kecil saya mengagumi ayah Ilham dan Thareq Kemal Habibie ini. Di sebuiah Lapak Koran di Pasar Raya Kota Padang, beberapa koran saya baca. Headline-nya terdapat kesan “euforia” dengan ditolaknya Laporan Pertanggungjawaban Habibie tersebut.

Hitungan jam, terdapat dinamika politik yang dinamis. Saya yakin, waktu itu, Habibie (akan) jadi Presiden RI (lagi). Karena tak ada aturan (konstitusi) tak bisa dicalonkan lagi jadi Presiden bila Laporan Pertanggungjawabannya ditolak. Tapi yang terjadi, beberapa TV memberitakan bahwa Habibie tak mencalonkan diri. Ia mengumumkannya tanpa beban. Senyumnya tetap sumringah.

Beberapa hari setelah itu, ada tulisan yang cukup komprehensif di sebuah majalah nasional (kalau tak salah : Majalah Gatra), tentang “ada apa dibalik tak maunya Habibie dicalonkan kembali ?”. Padahal secara matematis-politis, Habibie berpotensi menang mutlak berdasarkan voting. Bagaimanapun juga, Golkar danb Fraksi TNI (waktu itu masih ada), berada di belakang Habibie. Banyak tokoh nasional yang “membujuk” Habibie untuk tetap “membentangkan layar perahunya”.

Bujukan itu mempan. Habibie mengatakan (kurang lebih) : “Lucu bila saya mencalonkan diri lagi jadi Presiden, sedangkanm Laporan Pertanggungjawaban saya baru saja di tolak ….. Tidak. Saya tidak mau !”.

Habibie mengedepankan etika. Sportifitas.
Etika dan sportifitasnya menghilangkan hasrat ingin berkuasanya. Walaupun secara konstitusi (waktu itu), dibolehkan.

Habibie memberikan pelajaran berharga buat kita.

Sumber : Status Facebook Muhammad Ilham Fadli

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed