Terorisme dan Tafsir Ala Azzam

2. Jilid ke-2 sub-judul “Dinamika Sejarah Islam Bergantung kepada Jihad” Azzam mengatakan bahwa jihad harus didahulukan dari pada shalat, puasa, zakat, haji, dan kewajiban lainnya. Pada jilid yang sama Azzam juga mengulang-ulang kalimat “Sesungguhnya surga itu berada di bawah bayangan pedang.”

3. Jilid ke-15 sub-judul “Tidak ada Tauhid tanpa Pedang” dia mengatakan “Sungguh sejak awal agama ini diperjuangkan di atas tumpukan tengkorak manusia. Kemuliaan agama ini, keperkasaannya, dan bangunan negaranya benar-benar ditegakkan di atas potongan tubuh manusia.”

4. Jilid ke-2 sub-judul “Pengalaman Jihadku” Azzam mengatakan “Barang siapa yang mati padahal dia belum pernah berperang atau berniat untuk perang, maka dia mati dalam keadaan munafik.”

Azzam sendiri bukan ahli tafsir, dia lulusan sekolah pertanian, master bidang syariah, dan doktor bidang fiqih. Namun tafsirnya terhadap ayat-ayat al-Quran justru menjadi doktrin yang kuat bagi para jihadis, termasuk para jihadis di Indonesia. Latar belakangnya sebagai aktivis dan politisi gagal dari Ikhwanul Muslimin Palestina lebih dominan dalam menafsir ayat-ayat al-Quran dibanding latar belakang akademisnya. 

Benar kata Ignas Goldziher dalam “Madzab Tafsir” (Madzahib al-Tafsir al-Islami) bahwa penafsiran bukan hanya melibatkan para ulama, juga orang-orang bodoh yang menyebabkan perselisihan, pembunuhan, dan pembegalan. Menafsir yang awalnya dilakukan untuk menjaga keutuhan teks seiring waktu bercampur dengan usaha untuk menundukkan al-Quran demi kepentingan kelompok dan individu. Bagi mereka, teks suci bukan hanya sebagai sumber harapan, juga menjadi senjata perang yang mematikan!

Sumber : Status Facebook Makinuddin Samin

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *