by

Terimalah Agamamu Tak Sesempurna Itu

Oleh: Mita Handayani
 

Aku adalah seorang pengagum Aristoteles. Aku kagum pada sistematika berpikirnya yang rapi. Pada spekulasi-spekulasinya tentang semesta yang menakjubkan untuk ukuran zamannya. Tapi aku juga menerima kenyataan bahwa Aristoteles adalah seorang misoginis yang merendahkan derajat perempuan. Kenyataan yang terus terang menyinggung rasa keadilan genderku. Tapi apa boleh buat, begitu lah adanya.

Apa yang kuharapkan? Aristoteles adalah seorang yang lahir ribuan tahun lalu, di sebuah masyarakat yang sangat patriarkis. Tidak adil juga jika aku menuntutnya menjadi sosok feminis yang menyuarakan kesetaraan gender. Tidak adil jika aku memaksanya untuk memiliki semua nilai idealis yang dianut masyarakat Abad 21. Aku mengerti keadaannya. Aku memahami. Aku memaafkan dan tetap mengagumi sisi lain dirinya yang kuanggap luar biasa.

Begitu pula aku mengagumi Gajah Mada, Iskandar Muda, Sultan Agung, Soekarno, atau tokoh-tokoh besar lainnya. Mengagumi dalam batas rasional dan proporsional. Mengagumi tanpa harus menyangkal bahwa mereka hanya manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan.

Tidak bisakah kita mengambil sikap yang sama pada agama dan tokoh-tokohnya? Aku mengagumi sosok Muhammad dalam kapasitasnya sebagai seorang putra padang pasir Abad ke-7 yang mampu menyatukan bangsanya untuk melawan Romawi dan Persia. Tapi aku tidak harus menutup mata dan berpura-pura bahwa Muhammad adalah sosok sempurna tanpa cela. Dia manusia biasa yang juga pasti memiliki kekurangan. Dia memeluk nilai-nilai yang dianut budaya dan zamannya. Dan itu tidak harus membuatku memandangnya rendah atau hina. Aku memahami keadaannya. Tidak adil jika aku berharap seorang Muhammad berbicara tentang pasifisme dan doktrin anti perang, bukan? Sama tidak adilnya jika aku berharap seorang Yesus berbicara tentang anti-rasisme dan perbudakan. Seorang Gautama berbicara tentang kesetaraan gender dan hak-hak LGBT.
Tidak adil. Memaksa mereka berbicara melampaui zamannya.

Maka berhenti lah menuntut agamamu untuk sempurna. Berhenti berharap agamamu mengandung segala nilai kebijaksanaan dan idealisme Abad 21. Ini yang ingin kukatakan. Mulai lah memandang agamamu secara realistis dan terima lah ia seperti apa adanya. Tidak perlu mengarang dan mencocok-cocokkan bahwa tokoh agamamu berbicara tentang demokrasi dan kesetaraan gender dan anti perbudakan dan sebagainya. Apa bedanya dengan cocoklogi sains, mencocok-cocokkan ayat agama agar terdengar ilmiah?

Kita sadar bahwa seorang Muhammad mungkin tidak tahu bahwa bumi itu bulat. Bahwa halilintar terjadi karena proses fisika di awan. Bahwa tubuh makhluk hidup terdiri dari informasi genetika yang rumit. Apakah itu membuat Muhammad terlihat bodoh? Tidak, kan? Itu hanya membuatnya terlihat wajar. Terlihat masuk akal dan sesuai zamannya. 
Maka terima lah juga bahwa Muhammad menyuruh memotong tangan pencuri dan merajam mati pezina, hal yang tidak akan dilakukan orang waras mana pun di negara kita hari ini. Terima lah bahwa Al-Qur’an mengizinkan suami memukul istrinya dan merestui perbudakan. Tidak perlu dipoles-poles atau diartikan ulang untuk membuatnya terdengar lebih lembut dan jinak. Menyangkalnya hanya akan membuatmu hidup dalam inkoherensi dan delusi berkepanjangan. Membuat kita serba salah dan sungkan saat harus mengkritik kekejaman yang dilakukan atas nama agama.

Tidak. Mengakui hal-hal ini tidak membuat agamamu menjadi rendah. Pengakuan yang jujur dan jernih justru membuat agamamu terlihat dewasa dan semakin bijaksana. “Betul Islam dahulu begitu, tapi sekarang tidak lagi.”, “Betul Kristen dahulu begitu, tapi sekarang tidak lagi.” Berkembang. Menjadi semakin matang. Tanpa kehilangan rasa hormat pada para pendahulu yang telah merintis jalan menuju dunia utopis yang kita impikan.

Agamamu tetap sempurna. Nabimu tetap sempurna. Sempurna sebagaimana kau menyebut pasanganmu sempurna. Sebagaimana kau menyebut anakmu sempurna. Bukan dalam arti bahwa mereka tak memiliki kesalahan. Tapi dalam arti bahwa kau mencintai mereka sepenuhnya. Bahwa mereka tetap sempurna, betapa pun kau sadar akan kekurangan-kekurangan mereka. Tapi kau mampu berdamai dengan itu semua.

Mereka telah selesai bergulat dengan zamannya, kini giliran kau yang bergulat dengan zamanmu. Tatap ke depan. Di sana lah cahaya dan masa depan kita. Kuharap kau mengerti, kawan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed