by

Terima Kasih, Zhang…

Oleh: Iyyas Subiakto

Ibarat kegaduhan dari dalam rumah besar yg makin hari makin memekakkan telinga, kemudian ada tetangga yg terganggu dan memberi masukan sekaligus memberi peringatan. Itulah kondisi Islam di Indonesia.Agama berjulukan rahmatan lilalamin ini secara perlahan tapi pasti menjadi agama yg menakutkan walau tidak secara keseluruhan.

Ada spot2 yg memperihatinkan yg bak saudara sekandung berantam dalam rumah megah tapi jengah.Saya adalah orang yg mengalami masa2 indahnya beragama bersama teman2 yg tidak seiman tapi sekedamaian. Merasakan bagaimana gotong royong membantu membangun masjid dan gereja.

Susana ini sekarang konon masih bertahan di Manado. Kenapa disana bisa, itu pertanyaan buat kita.Bermula dari pembiaran membiaknya HTI dan disusul Islam preman FPI yg berprilaku seperti setan, PKS yg juga punya kontribusi dengan semula menolak Pancasila walau sekarang diam tak bicara tapi tetap saja menimbulkan rasa curiga, apalagi jelas2 mereka bagian dari rencana pembentukan khilafaisme yg notabene musuh negara.

Kampanye2 nya cenderung anti pemerintah, malah yg dijual poligami dan melulu kawin lagi pakai seminar segala. Mereka juga akrab dgn orba dan sangat mesra, sementara hati kita masih membara karena orba adalah perusak Indonesia yg nyata.

Di tengah keberisikan dirumah kita sendiri, jeder ada Paul Jozhep Zhang seolah mengolok Nabi junjungan kita. Kita ini kebiasaan ngamukan kl ada tetangga komplain atau mengolok, padahal ya sumbernya dari kita juga. Kasus Meliana di Sumut soal volume azan sampai terjadi bakar2 an dan Meliana di penjarakan. Terus setelah itu kita dapat apa, bangga, menang, tidak juga, yg kita terima stigma sebagai agama mayoritas dan beringas.

Zhang diuber karena dianggap menistakan agama, bagaimana Somad, Yahya Waloni, Zulkarnain, Desak dan lainnya yg bermulut enteng melakukan hujatan kepada keyakinan saudara kita se-Pancasila. Walau NU mulai bersuara agar polisi menindak ustadz dan ulama Islam yg menghujat agama lain. Semoga hal ini bisa konnsisten di jalankan jgn hangat2 tai onta.

MUI yg seolah mewakili ulama Indonesia malah menambah bara dalam urusan beda keyakinan. Lihat saja statement Abas Waketum MUI yg mengatakan Zhang tak mungkin di tanggkap karena Kapolrinya Kristen, ini kan pernyataan orang gak berpendidikan. Yang terus kita herankan kok semua pada diam. Lembaga agung kok bingung. Apa tak sebaiknya bubarkan saja MUI krn tak ada gunanya juga.

Sekarang ada Zaskia Mecca dan Muhamadiyah bicara Toa yg tidak perlu buat show of porce seperti selama ini, apalagi azan itu sekarang di genggaman hampir setiap orang. Dulu saat msh pakai kentongan dan beduk utk mengingatkan waktu Maghrib di kampung ya karena teknologinya belum ada, kemudian hadir toa dan sejenisnya, kalau sekarang ada hp, computer, alarm, apa toa masih perlu di semburkan 5x sehari yg sampai menimbulkan polusi suara.

Zhang diburu, sementara kelakuan kita gak di ripiu, beragama utk menuju kebaikan, tapi kelakuan menjijikkan. Gak usah malulah kita ini masih banyak bedebah yg memuakkan memakai simbol dan aturan agama, liat walikota Serang yg bak lebah menyerang musuh memberi sanksi dan mengangkuti barang jualan warung makan, membuat aturan denda 50 jt, dia pikir duit segitu milik nenek nya.

Yg didenda warganya, yg disusahkan warganya, emang Tuhan bangga. Manusia kok seperti buaya yg gak punya alat perasa.Kondisi yg memuakkan ini membuat saya berpikir apa sebaiknya dibuat rumah doa bersama saja. Jumat dipakai orang Islam, Minggu dibuat kebaktian, dst. Jadi kan gak ribet, IMB nya satu, luas tanahnya juga bisa di tempat yg sama.

Ini pikiran saya saja, jangan nanti dilaporkan saya mau buat agama baru, agama campursari. Ampun Gusti, saya hanya mau cari solusi agar manusia yg mengaku beragama ini tak seperti kera membajak mobil, bisa menguasai tak bisa menjalankannya.Kita tunggu Zhang lainnya agar kita di kritisi untuk mawas diri, jgn sampai kita lupa ada lain agama dan keyakinan manusia yg tidak bisa dianggap seperti anak tiri. Mereka adalah hamba Tuhan dgn cara dan keyakinannya menuju ketempat yg sama, alam baqa.

ISLAM ITU HARUSNYA MADANI, BUKAN MEDENI.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed