by

Terbenamnya KPK, Bipang dan Perayaan Nasional

Oleh : Jihan Davincka

Terbenamnya KPK, Bipang, dan Perayaan NasionalDuh, lama-lama jadi ikutan prasangka buruk, neh. Kenapa isu-isu minim faedah tiba-riba ramai saat ada pemberitaan lain yang lebih penting hehehe.Manajemen media sosial dalam berbagai lingkup organisasi (termasuk pemerintahan wilayah/negara? *uhuk*) memang harus lincah mencari solusi pengalihan isu.Soal KPK ya udahlah, seems like ‘they win’. Takjub sekali jadi banyak yang memuja muja institusi kepolisian dan kejaksaan yang dianggap lebih ‘sakti’ daripada KPK urusan korupsi.

Entah harus ketawa apa menangis. Apa lupa dulu awalnya KPK dibentuk saking udah putus asanya negara kepada banyak institusi yang seharusnya menjadi penegak hukum malah berlaku sebaliknya. Sekarang ada … BIPANG! Bipang dari Ambawang. Babi Panggang. Langsung gempar!

Hahahaha.Semalam udah berdebat sama suami.Menurut suami pak presiden blunder. Ah, masaaaaaaa. APakah hal seperti ini sudah sepantasnya memancing keributan? Kalok buat netijen +62 yang gak kelar-kelar dengan pembagian kubu ‘NKRI harga mati’ vs so-called-KADRUNer tentunya harus ribut! Hahahaha.Enggak usah kaum pakar, yang awam-awam aja pasti sudah ngertilah. Nyebut-nyebut babi dkk di hari perayaan Idul Fitri pasti ada yang akan terbakar. Dan tentunya pihak satunya lagi sudah pasti akan menangkis. Padahal sebenernya hari raya lebaran ini memang sudah masuk perayaan nasional. Temen-temen non muslim memang banyak yang ikutan mudik. Jangankan mudik, ada yang ikutan pesen kue kering dan ketupat lebaran buat dimakan di rumah rame-rame. Biasalaaaaahhhhh .

Pembagian THR pun di banyak perusahaan biasanya jelang Idul Fitri untuk semua karyawan apa pun agamanya. Jadi jelaslah, uang jajan nambah . Natal pun sebenernya mirip kan. Natal ituh, buat kita yang non Nasrani kan jadi ajang buat nungguin film-film bagus di tipi . Eh sekarang udah ada Netflix Hotstar dkk gak perlu nunggu Natal. Jelang natalan pun udah kebayang makan kue-kue kering enak-enak. Entah sejak kapan perayaan-perayaan yang sudah jadi tradisi bersama ini dipasangi sekat pembeda nan ketat. Kesel. Harusnya hepi bareng-bareng malah jadi sibuk berdebat soal haramnya ucapan Natal lah, kok lebaran malah jajan babi panggang lah, dst dst dst. I know ada beberapa agama lain di INdonesia. Tapi akui saja, pada umumnya kita lebih familiar dengan dua perayaan itu kaaaaan .

Hari Valentine yang sebenernya secara tradisi bisa beda-beda tiap wilayah sudah dicap sebagai milik keyakinan tertentu. Di Ireland, saban Valentine, anak-anak di sekolah dasar disuruh bikin kartu buat ortu masing-masing. Ungkapan sayang buat Mama atau Papa. Kayak gitu tradisinya, Gaeeees. Jadi bukan mengenang Santa siapa lah itu yang katanya foundernya Hari Valentine hahahaha . Bukan juga dirayakan dengan cipok-cipokan sama pacar. Di US mungkin begitu. Tapi beda iklim ya beda rumput. Kek gitu doang masa susah sekali ya dipahami. Inilah makanya seharusnya keyakinan spiritual atau agama tuh bener-bener dijaga menjadi persoalan pribadi. Serapat mungkin. Dalam institusi sendiri aja, sesamanya sendiri ribut sendiri-sendiri kok, ya. Sampai rebutan jabatan duniawi pun #eh.

Baru aja kemaren berantemin soal boleh tidaknya Nabi Muhammad digambar apa kagak? Kadang kubingung, hasil perdebatannya itu kira-kira kalau diterapkan ke dalam pemberantasan korupsi kek manalah pengaruhnya? Pemberantasan kemiskinan? Penanganan pandemi? Menenangkan mamak-mamak yang mulai gila ngadepin sekolah onlen? . Institusi yang selama ini tempat kita menaruh harapan soal pemberantasan korupsi dicabik-cabik kek gak ada aja gitu yang peduli .Benarlah bila salah satu kegagalan banyak negara untuk maju karena lama-lama nganggep korupsi tuh masalah receh. Sesuatu yang jauh di luar jangkauan kita. Gak punya pengaruh apa-apa dalam kehidupan secara langsung? Sering mengeluh kenapa INdonesia gak maju-maju, mutu pendidikan sekolah negeri kok gitu-gitu aja, kok begini, kok begitu.

Itu kira-kira diakibatkan oleh babi panggang ato korupsi, Gaeeesss?

Sumber : Status Facebook Jihan Davincka

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed