by

Tentang Mengunjungi Tempat Ibadah Agama Lain

Oleh : Greg Wijaya

Pada saat Sekolah Kebinekaan Magelang tahun 2019, ada juga sih sesi mengunjungi berbagai tempat ibadah/komunitas keagamaan. Kami (panitia) mengajak peserta berkunjung ke gereja Katolik, gereja Kristen, kelenteng, pura, vihara, dan pondok pesantren. Tujuannya terutama untuk silaturahmi dan mengenal aneka hal terkait tempat ibadah/komunitas keagamaan tersebut. Peserta dipandu oleh pemuka agama atau aktivis kegamaan setempat berkeliling memasuki tempat ibadah, mendengar segala sesuatunya dari tangan pertama. Nah, ini yang penting. Dari tangan pertama. Bukan dari katanya katanya atau sumber sumber yang tidak jelas kevalidannya.

Mendengar dari penganutnya sendiri, bahkan dari pemuka agamanya secara langsung. Ini penting untuk menjernihkan prasangka prasangka yang mungkin selama ini telah terbentuk. Prasangka berdasarkan katanya katanya tadi. Dalam bayangan kami, jika prasangka hilang, muncullah pengetahuan. Mengapa Islam begini, mengapa Katolik begitu. Mengapa Hindu bersikap A dan Buddha memilih B. Cukup tahu saja. Tidak perlu sampai paham. Apalagi ganti keyakinan. Jauhlah itu dari maksud dan tujuannya.

Pengetahuan yang cukup akan menjadi modal dalam bersikap. Sebelum sesi kunjungan, kami selalu menyampaikan ke peserta : seandainya ada yang terhalang karena keyakinannya untuk masuk ke tempat ibadah agama lain, itu tidak masalah. Kami mengerti bahwa ada beragam pendapat mengenai hal ini. Kami sangat menghormati perbedaan tersebut. Jika mereka meyakini kalau masuk ke tempat ibadah agama lain itu bisa jadi batu sandungan bagi keimanannya, ya silakan tidak mengikuti sesi kunjung mengunjung tadi. Bagi yang meyakini hal itu bukan masalah, kami persilakan untuk ikut. Tidak ada beban, tidak ada paksaan.

Apakah peserta yang tidak ikut berkunjung itu lantas otomatis menyandang cap intoleran, tidak menghargai perbedaan, atau bahkan dicurigai sebagai anasir radikalis? Ah…tidak juga. Tidak segampang dan segegabah itu cara berpikirnya. Bukankah keengganan tersebut (yang didasari keyakinan berdasarkan ilmu agama masing masing) juga merupakan bagian dari keragaman yang menjadi pusat pembelajaran Sekolah Kebinekaan? Kasusnya mungkin seperti ucapan selamat Natal bagi umat Kristiani.

Apakah jika ada umat Islam yang terhalang (sekali lagi : oleh keyakinan imannya) untuk menyampaikan ucapan Selamat Natal, terus mendadak sontak patut dilabeli intoleran? Kadrun anti Bhinneka Tunggal Ika yang patut terus menerus diawasi gerak geriknya? Ah…mbok ya jangan cepet cepet main stigma gitu. Pembelahan di tengah masyarakat kita sudah begitu parah akibat hobi “nyetempel” yang tanpa pikir panjang. Kita tidak perlu menambah kegawat-daruratannya.

Bagi kami, berkunjung ke tempat ibadah agama lain, merupakan salah satu sarana untuk saling kenal, “srawung” dengan “liyan”, tahu apa yang khas, apa yang berbeda, dan yang lebih penting : menemukan titik titik persamaan yang bisa menjadi pijakan untuk hidup bersama yang rukun dan damai. Apa itu? Cinta kasih pada semua ciptaan Tuhan, kearifan, penghargaan pada kemanusiaan, penghormatan pada kebenaran dan keadilan.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Greg Wijaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed