by

Tentang Kritik Ya Lal Wathon saat Sa’i, Umar bin Khattan pun Berdendang Saat Haji

Motivasi penulisan kitab ini adalah permintaan guru pengarang, Abdullah Asy-Syathiri yang sangat dihormatinya. Tujuan penulisannya adalah untuk memudahkan para santri yang ingin memahami mazhab Asy-Syafi’i dan juga memudahkan para guru yang mengajarkannya, sehingga tidak perlu mengarang “modul” sendiri yang membutuhkan kerja keras.

Sebagai kitab fikih mazhab Asy-Syafi’i, pengarang menulis kitab ini dalam bentuk “mukhtashor”. Melihat masa hidup Ahmad Asy-Syathiri yang berada pada abad ke 14 H, bisa dipahami bahwa kitab ini lahir setelah masa kematangan terakhir perkembangan mazhab Asy-Syafi’i. Dari sini, menjadi wajar jika nilai abstraksinya sangat tinggi dan mendapatkan perhatian serius dari ulama-ulama Syafi’iyyah. Bisa dikatakan kitab ini meringkas tahqiq-tahqiq ulama Asy-Syafi’iyyah muta-akkhirin sehingga dijadikan sebagai salah satu referensi penting kajian fikih mazhab Asy-Syafi’i.

Bahasa yang digunakan mudah dipahami dan dicerna. Tidak salah jika dikatakan “Al-Yaqut An-Nafis” adalah kitab yang berisi pembahasan fikih klasik tetapi dibahasa-ulangkan dengan bahasa kontemporer.

Sebelum memulai pembahasan topik-topik fikih, dalam muqoddimah, pengarang menjelaskan 10 dasar-dasar (principles) suatu bidang ilmu tertentu agar pelajar mana pun mendapatkan basis yang kokoh untuk menyerap ilmu secara maksimal dan menguasai aspek ontologis, epistemologis, maupun aksiologisnya. Kesepuluh prinsip dasar itu adalah;

1.    Al-Hadd/definisi (الحد)

2.    Al-Maudhu’/subjek/topik (الموضوع)

3.    Al-Fa-idah/manfaat (الفائدة)

4.    Al-Masa-il/pokok persoalan/issues (المسائل)

5.    Al-Ism/nama disiplin ilmu (الاسم)

6.    Al-Istimdad/sumber disiplin ilmu (الاستمداد)

7.    Hukmu Asy-syari’ fih/hukum syara’ terhadap displin ilmu (حكم الشارع فيه)

8.    An-Nisbah Ila Sa-iri Al-Ulum/penisbatan suatu disiplin ilmu terhadap ilmu-ilmu yang lain (النسبة إلى سائر العلوم)

9.    Al-Fadhlu/keutamaan suatu disiplin ilmu (الفضل), dan

10.    Al-Wadhi’/penemu/pencipta/pelopor disiplin ilmu (الواضع)

Di antara ciri menonjol “Al-Yaqut An-Nafis” dibandingkan “mukhtashor” yang lain adalah perhatian khusus pengarang terhadap definisi-definisi istilah fikih pada awal pembahasan topik tertentu. Ahmad Asy-Syathiri selalu menjelaskan makna bahasa dan makna syar’i istilah-istilah fikih saat diperlukan. Umumnya kitab “matan/mukhtashor” tidak ada yang memberi perhatian definisi singkat seperti ini.

Susunan babnya bagus. Cara meletakkan bab-bab (“kutub”/chapters), subbab (“abwab”/sections), masa-il (subsections), dan “fushul” (subsubsection) menunjukkan pengarangnya memiliki pengetahuan mendalam terhadap bidang yang ditulisnya.

Perhatiannya terhadap cara pengorganisasian pemikiran fikih juga sangat bagus. Hal itu tampak pada perhatian pengarang yang sangat tinggi terhadap pembahasan “syuruth” (syarat-syarat), “arkan” (rukun-rukun), “wajibat” (hal-hal wajib), “mustahabbat” (hal-hal yang dianjurkan), “sunan” (sunnah-sunnah), “nawaqidh” (hal-hal yang membatalkan), dan “mubthilat” (hal-hal yang membuat batil). Orang yang membaca kitab fikih dengan cara penyajian seperti ini benar-benar akan dimudahkan untuk memahami topik fikih tertentu yang dipelajari dalam bentuk kerangka pemikiran yang utuh dan terkristal.

Kitab ini juga memiliki keistimewaan dalam mendeskripsikan kasus. Seringkali di akhir pembahasan dicantumkan contoh dan gambaran kasus yang sedang dibicarakan dengan mengatakan “washuurotu kadzaa an yaquula zaid…” Dengan cara ini, orang akan tahu bagaimana mempraktekkan sebuah muamalah syar’i yang memenuhi syarat dan rukunnya secara lengkap.

Segala kelebihan kitab “Al-Yaqut An-Nafis” di atas, disempurnakan dengan kerja murid pengarang yang bernama Salim Bukayyir. Beliau meluangkan waktu untuk memberi komentar ringkas baik berupa syarah singkat, “idhofat”, “taqyidat” dan lain-lain yang sangat membantu memahami isi kitab.

Pengaruh kitab ini cukup luas, terutama di negeri asal pengarang yakni Hadhromaut. Lembaga-lembaga pendidikan Islam di Tarim dan sekitarnya banyak yang menjadikan kitab ini sebagai kitab pegangan wajib bagi pemula yang belajar mazhab Asy-Syafi’i.

Sumber :Ngopibareng.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed