Tentang Da’i-Da’i Salafi Itu

Salafi-Hijazi ini terpecah dalam tiga faksi besar: Madakhilah, Halabi, dan Hajuri. Madakhilah merujuk kepada nama ulama senior Madinah, Syeikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali. Halabi merujuk kepada Syeikh Ali bin Hasan al-Halabi, muridnya Syeikh Nashiruddin al-Albani, berbasis di Yordan. Hajuri merujuk kepada Yahya al-Hajuri, penerusnya Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i di Madrasah Darul Hadis, Dammaj, Yaman.

Madakhilah dan Halabi menolak keras masuk isu politik. Hajuri, sehubungan keadaan Yaman, mulai masuk ranah politik. Syeikh Yahya membentuk milisi dan bentrok dengan Houthi. Ini mirip yang dilakukan Ja’far Umar Thalib, alumni Darul Hadis, yang mendirikan Laskar Jihad. 

Pertentangan di antara faksi salafi ini keras sekali. Salafi-Hijazi mengecam keras salafi Haraki-Sururi, apalagi terhadap salafi jihadi. Mereka emoh masuk ranah isu politik, apalagi mendukung terorisme. Di internal salafi-Hijazi, Hajuri dikecam oleh Madakhilah dan Halabi karena masuk ranah politik praktis. Madakhilah dan Halabi juga saling kecam karena perbedaan metode dakwah. Ust Firanda Andirja, yang dicap sebagai Halabi, terlibat cekcok tajam dengan ustadz muda dari Makassar, Dzulqurnain M Sunusi.

Dia mengklaim sebagai loyalis salafi murni yang induknya Arab Saudi. Tetapi, baik Halabi maupun Madakhilah, sama-sama anti terorisme. Derajatnya bahkan ekstrem: tidak boleh mencampuri urusan politik dan pemerintahan. Demo haram. Nyinyir kepada pemerintah yang sah haram. 

Setahu saya, dai salafi yang dilarang ceramah di Pelni itu masuk kelompok ini. Apakah mereka radikal? Tergantung definisinya. Kalau radikal adalah ideologi yang mengancam negara, mereka sama sekali bukan ancaman. Boro-boro melawan negara, ngomong pemerintahan aja emoh. Mereka konsen pada tema pemurnian akidah dan ibadah. Masalah mereka justru di sini. Begitu ngomong soal akidah dan ibadah, mereka mengenakan kaca mata kuda. Mereka mencela para pengikuti Asy’ari. Dalam ibadah, mereka mengolok-olok para penganut Imam Syafi’i. Mereka minim sekali wawasan toleransi. Mereka buta soal ikhtilaf di kalangan ulama.

Misalnya, pengikut Asy’ari mentakwil ayat ‘Allah bersemayam di atas Arasy’ dengan Allah menguasai ‘Arasy. Mereka tidak mau terima. Pokoknya yang benar Ibn Taimiyah. Selebihnya sesat dan di neraka. Dalam soal ibadah, mereka mengolok-olok pengikut Imam Syafi’i yang qunut subuh. Omongannya, dalam sebuah tayangan di Youtube, bahkan kurang ajar sekali. Mereka betul-betul tidak mengakui ijtihad Imam Syafi’i yang menganggap qunut subuh itu sunnah. 

Andaikata mereka tidak pakai kaca mata kuda, misalnya, mengakui perbedaan madzhab dan menghormatinya, urusannya selesai. Damai! Padahal, mereka bisa mengakui perbedaan pendapat di kalangan para ulama junjungan mereka. Mereka hormat jika yang berbeda Bin Baz dan Albani. Bin Bâz mewajibkan cadar, Albânî tidak. Albânî berpendapat teraweh tidak boleh lebih dari 11 raka’at, Bin Baz boleh. Bin Baz membolehkan dzikir dengan tasbeh, Albânî menganggap bid’ah, berasal dari tradisi Nasrani.

Mereka bisa terima perbedaan pendapat di kalangan para ulama mereka, tetapi menutup mata dengan pendapat ulama lain di luar golongan mereka. Inilah masalanya. Mereka tidak radikal dalam pengertian ancaman vertikal bagi negara, tetapi berpotensi menciptakan ketegangan horizontal karena tabdi’i, tafsiqi, dan takfiri. Andaikata ceramah mereka mengakui fikih ikhtilaf, mau menenggang perbedaan, saya akan jabat tangan mereka. Saya akan bela hak mereka untuk berpendapat dan berkeyakinan, termasuk ceramah di mana pun. 

Sumber : Status Facebook M Kholid Syeirazi
https://www.nu.or.id/…/127938/tentang-dai-dai-salafi-itu-

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *