by

Tentang Ayahnya Gibran

Oleh : Sunardian Wirodono

Menikmati sikap pembelaan JFC (Jokowi Fans Club) kadang membuat mau ketawa, tapi takut kepentut.

Ini bukan soal anak presiden atau anak gelandangan mau ikut Pilpres. Tapi, anehnya, yang dulu kecewa dengan sikap SBY, yang songong ketika ditanya Presiden Megawati, mau maju nyapres (2004) ndak? SBY menjawab persis seperti Gibran ketika ditanya wartawan. Sikap dan gesture Gibran pada wartawan, acap terasa kurang respect. Beda banget sikapnya ketika berhadapan dengan para ketum dan elite partai politik. Sangat sopan-sophiaan dan santuy.

Memang belum ada pernyataan resmi, baik dari Gibran atau pun bapaknya yang kebetulan Presiden. Ini juga mengherankan, maunya apa. Saya tak punya informasi A1, apakah Gibran sudah memberitahu partainya, atau Golkar yang telah menggolkarkan Gibran sudah memberitahu, atau minta ijin, partai tempat Gibran tercatat sebagai anggota atau kadernya?

Ketidaktegasan jawaban Gibran, yang selalu melempar-balik pertanyaan, menunjukkan kelas politik yang mencemaskan. Diplomasi politiknya menunjukkan kelasnya. Kelas rendah. Bagaimana nanti di pusaran kekuasaan berhadapan dengan para korea-korea?

Bapaknya Gibran, sebagaimana anaknya, jawabannya kepada media selalu normatif. Terserah rakyat, kan yang memilih rakyat? Persis jawaban Prabowo: Ini kehendak rakyat, bukan kehendak elite. Kalau terserah rakyat, kasih pemahaman yang benar dong, jangan membuat politik jadi rumit, yang mudah dibuat sulit.

Sementara itu, manuver Kaesang dengan PSI, juga menunjukkan gejala yang menjelaskan, ke mana arah politiknya. Ini menjadi pertanyaan, ini partai milik siapa? Kaesang sendiri, mungkin setelah gagal bertemu Megawati (ditolak), langsung pasang harga tinggi. Beda dengan pernyataan awalnya sebagai yunior yang mau belajar. Ia bisa mengatakan enggan bekerjasama dengan PDIP jika merugikan PSI.

Itu juga contoh komunikasi politik blunder. Blunder adalah kesalahan yang bodoh. Termasuk pada akhirnya informasi soal manuver Istana, soal rekayasa keputusan MK yang tak bisa ditutup-tutupi lagi. Menjadi rumors liar, bagaimana Pratikno dan Anwar Usman disebut-sebut bermain-main di situ.

Presiden Indonesia, sepulang dari kunjungan luar negeri, konsolidasi awalnya justeru dengan Prabowo dan Airlangga Hartarto. Bukan dengan PDIP, partai darimana ia diusung dalam Pilpres yang menjadikannya presiden.

Ini semua tentang etika dan moral politik, yang justru menjadi kontra-produktif bagi Jokowi. Kontra produktif itu menunjukkan ketidakpekaannya. Seolah approval rating 80-an persen itu bersifat fixed. Padal citra politik berkait preferensi yang naik-turun.

Persis ketika Golkar dalam Pemilu 1997 menang di atas 76,47 persen, tapi hanya dua tahun kemudian, Pemilu 1999, kandas hanya mendapat suara 25,97 persen. Sedangkan PDIP yang pada 1997 mendapat 2,75 persen, dalam pemilu 1999 mendapat 33,12 persen suara.

Ini tulisan tidak menyalahkan siapa memilih apa. Namun pilpres kali ini, kita melihat bagaimana para elite politik (terutama yang tergabung dalam KIM, yang konon tegak-lurus dengan Jokowi), justeru terlihat sibuk dengan kalkulasi, taktik, namun kosong dari paradigma dan gagasan politik. Hampa dari nilai-nilai substansi demokrasi. Hanya sibuk dalam demokrasi prosedural, yang mereka otak-atik.

Mereka fokus bagaimana memenangkan kontestasi dengan memposisikan pemilik hak suara sebagai sekedar angka. Bukan manusia yang memiliki perasaan, pikiran, pengetahuan. Persis para analis politik yang memfrozen nilai electoral; Kalau mau menang di Jawa Timur pegang NU. Menang di Jawa Barat pegang anu. Mau menang Jawa Tengah, pegang anak Presiden yang sedang berkuasa. Survey yang bersifat temporer, dipercaya kalau menyenangkan, dan akan disomasi kalau merendahkan.

Politik tergantung pada centhelan adalah politik masa lalu, yang anehnya PSI pun kini, bersama Kaesang ingin menirunya. Bukan bagaimana partai politik merumuskan gagasan, kemudian mencari aktor dan artikulatornya. Kemudian membentuk organisasi, dan tawarkan kepada rakyat. PDIP dalam hal ini, justeru lebih mengesankan. Megawati yang sepuh, terasa menjadi lebih berkelas. Bahkan dibanding yang 5 kali menang kontestasi, dan hampir seperempat abad terus-menerus dalam kekuasaan.

Kita masih menunggu beberapa hari ke depan, setidaknya sampai 25 Oktober 2023. Apakah kejengkelan rakyat, yang terekspresikan lewat berbagai media, medsos utamanya, kalah besar pengaruhnya dibanding jebakan betmen lingkaran elite yang memuja-mujanya?

Atau ini cerita tentang salah menerjemahkan mimpi basah? Ternyata baperan juga? Orang-orang pinter di KSP tak ada yang cemuwit. Senyap. Kicep. Presiden sebagai Kepala Negara tak punya kalimat lain selain hal-hal yang normatif, tapi kini berasa kontradiktif. Tak ada yang mau bersinar seperti matahari. Malah mengirimkan Paman dari Emka, eh, kota ding.

Atau ini soal rumah tangga biasa, sebagaimana tulis Anna Freud; It is only when parental feelings are ineffective or too ambivalent or when the mother’s emotions are temporarily engaged elsewhere that children feel lost? Tentang anak-anak yang tersesat (atau disesatkan), karena perasaan orang tua tak efektif atau terlalu ambivalen? Atau ketika emosi ibu untuk sementara terlibat di tempat lain?

Tempat lain di mana? Di luar kekuasaan? Atau belum siap menghibahkan jiwa-raga dalam marwah busur yang melepas anak panah? Masih sebatas melihat anak yang tak lela-lela ledhung? Tergantung pada centhelan.

Tapi dahsyatnya, ada yang percaya ini cara Joko Mulyono, membantu kemenangan Ganjar-Mahfud secara telak. Wallahu’alam bisawwab. Wala-wala kuwata.|

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono III

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed