by

Tempo yang Kian Menyenja

Menarik diamati tentu saja apa yang dialami Tempo, majalah berita tersohor yang pernah ‘enak dibaca dan perlu’ ini, kian hari kian kolaps menghadapi era digital. Tentu ini di luar dugaan kita, mengingat tempo cukup punya nama besar di masa lalu. Versi cetaknya kini terengah-engah, sedang versi digitalnya pun terseok-seok menghadapi media digital lain.  Megap-megap berhadapan dengan pemain baru, bermodal terbatas, bahkan cukup keteteran berhadapan dengan perseorangan. Tempo tak lagi gagah dalam adu populer dengan para seleb medsos. Bukti ambang kebangkrutan Tempo itu banyak kita jumpai di Google, aneka tabel yang mengindikasikan Tempo semakin hari semakin kolaps menghadapi persaingan, termasuk Laporan Rugi Laba yang terjun gila-gilaan dibanding sepuluh tahun lalu.

Apa yang salah dengan Tempo? Majalah sebesar Tempo tentu saja memiliki wartawan-wartawan kawakan yang bisa memprediksi arah perubahan dan trend digitalisasi. Mereka yang seharusnya memberi masukan pada manajemen tentang langkah yang harus ditempuh untuk terlepas dari jerat kebangkrutan. Atau jangan-jangan…

Terlepas dari masalah manajemen (kemungkinan finansial Tempo sudah keropos dari dulu kala) banyak yang mengamati, Tempo kehilangan akurasinya belakangan ini. Berita-berita yang ditampilkan tak akurat. Tercatat ada banyak pemberitaan Tempo yang terbukti hoax. Di antaranya pernyataan bahwa Paus Francis terkena Covid di awal Maret 2020. Kali lain pada April 2016, Tempo menyiarkan berita hoax tentang isu reklamasi Teluk Jakarta. Tempo memberitakan terjadi barter antara PT Agung Podomoro dan Pemprov DKI terkait penertiban Kalijodo dengan izin reklamasi. Pada Oktober 2019, bahkan Tempo dengan mantap ber’hoax’ menyatakan laporan Polisi bila terdapat batu dan Molotov pada Ambulan pendemo adalah hoax. Hoax bilang hoax rasanya setara dengan ‘maling teriak maling’. Ini semua hanya beberapa contoh.

Tempo mungkin sedang berusaha meraih kembali pelanggannya dengan mengeluarkan berita sensasional, tanpa menghiraukan kaidah jurnalisme. Bagi Tempo, kebenaran bisa diralat belakangan, yang penting efek emosional dari berita-berita tersebut akan meningkatkan jumlah pembaca. Bad news is good news. Mungkin itu dalih Tempo. Pengamatan khalayak ramai  tentang Tempo pun tak kalah buruk. Tempo kian hari kian bias membela kepentingan tertentu, Tempo terlihat tak lagi netral. Investigasinya selalu berpihak pada kelompok pemarah yang berlindung pada label mayoritas. Tempo akan memihak aksi terorisme yang jelas-jelas  tak berkemanusiaan, dibanding  Polisi yang terpaksa melakukan tindakan pengamanan.

Tempo kemudian menjadi dekat dan cenderung membela kelompok yang berseberangan dengan pemerintah. Kelompok intoleran pengusung ideologi trans nasional, ataupun mereka yang sering disebut sebagai Social Justice Warrior (SJW). Setiap saat setiap waktu, Tempo akan mengkritik pemerintah, bila perlu dengan menyebar fitnah dan hoax. Dalam hal ini yang paling sering jadi sasaran fitnah Tempo adalah Presiden Joko  Widodo, keluarga dan kerabatnya. Apapun yang dilakukan Jokowi adalah salah, ini rumus nomor satu. Bila Jokowi tak berbuat salah, mari kita buat berita-berita seolah Jokowi berbuat salah, itu rumus kedua. Bila yang seolah-olah pun tak ditemukan, mari kita bikin berita fiktif (aka hoax) tentang Jokowi, dan inilah rumus ketiga.

Yang terbaru tentu saja isu yang dihembuskan Tempo berkait Korupsi Bansos. Tempo menghembuskan fitnah bahwa PT Sritex memenangkan tender goodie bag Bansos Kemensos atas rekomendasi Gibran Rakabuming Raka, walikota Solo terpilih. Informasi tersebut dikatakan didapat dari dua staf PT Sritex. Entah siapa staf tersebut, level eselon satu, atau hanya seorang pegawai yang kebetulan lewat. Lebih parah lagi, informasi mengungkapkan nama anak Pak Lurah sebagai pemberi rekomendasi. Bagaimana mungkin kata ‘’anak Lurah kemudian diinterpretasikan sebagai ‘anak Presiden’.  Tafsir macam apa ini, jurnalisme tentu saja bukan kajian tafsir. Sangat memalukan untuk media sekelas Tempo mengungkapkan investigasi hanya berdasarkan ‘katanya’. membuat berita Tempo setara ghibah emak-emak di pos ronda sembari mencari kutu.

Isu murahan yang dilempar tempo itu tentu saja segera diklarifikasi oleh PT Sritex dan Gibran. PT Sritex menjelaskan bila mendapat tender langsung dari Kemensos, dengan pertimbangan PT Sritex mampu bekerja sama dengan banyak UMKM setempat, sehingga tender tersebut dapat segera diselesaikan. Mengingat keadaan darurat pandemi. Tempo sendiri memberitakan pada 4 September 2020 tentang Sritex Berdayakan tenaga Kerja Lokal Buat 10 Juta Tas Bantuan Sembako Kemensos (www.nasional.tempo/amp/1382626/sritex-berdayakan-tenaga-kerja-lokal-buat-10-juta-tas-bantuan-sembako-kemensos) Pada akhirnya, setelah adanya klarifikasi tersebut, Tempo meralat tulisannya, namun tentu saja dengan kepongahan tanpa meminta maaf.

Mengapa Tempo terkesan sangat membenci pemerintah dan membela kaum intoleran dan SJW? Tentu karena Tempo mengharap meraih pelanggan di kelompok itu. Berpegang pada data bahwa kelompok intoleran kebanyakan berasal dari agama mayoritas, serta selalu SJW nyaring teriakannya, Tempo mengira pilihan keberpihakannya akan mendatangkan banjir pelanggan dan pembaca. Tetapi apa kenyataannya semanis itu? Tidak, Tempo tetap saja kolaps. Pada dasarnya masyarakat Indonesia itu moderat, cukup bisa membedakan mana yang hanya bersuara keras saja tapi tak benar. Tidak percaya? Pemilu-pemilu setelah Reformasi selalu membuktikan bahwa partai-partai yang banyak mengkampanyekan intoleransi tak pernah menang. Pada dasarnya Bangsa Indonesia itu cinta mati NKRI. Tempo telah salah membaca data. Intoleransi bukanlah cerminan mayoritas.

Media selegenda tempo salah data?  Wajar kalau mulai kolaps. Dari sini kita tentu semakin paham mengapa Tempo makin menyenja, ibarat pegawai yang seharusnya memasuki masa purna tugas tetapi tetap bekerja meski kemampuan fisik dan pikirannya jauh menurun. Mungkin Tempo belum sempat pensiun, karena tak sempat menabung selagi banyak untung. Dan di saat buntung, Tempo terpaksa menjadi belatung. Eh jangan-jangan Tempo menjadi buntung karena dimodali belatung? Kelompok-kelompok yang ingin merekayasa informasi demi kepentingan pribadi. Bila benar ada pemodal belatung di belakang Tempo, semakin bisa dipahami ketakakuratan pemberitaan Tempo di tahun-tahun belakangan ini. Tempo tentu membela kepentingan pemodalnya. Dan ini wajar bila menggerogoti kepercayaan masyarakat pada Tempo dan berujung dengan makin terpuruknya Tempo di antara media-media yang ada.

Tempo tak pernah sadar, ia menyandang nama besar, yang berarti telah memeteraikan diri dengan kelompok pembaca kelas tertentu yang sangat peka dan menuntut fakta, obyektivitas dan kejujuran. Tanpa memenuhi hal-hal tersebut, Tempo kehilangan segmen pasarnya. Jurnalisme Tempo belakangan ini tak menyasar dan mengena di hati kelompok itu lagi. Tempo bahkan lebih menyasar ke segmen masyarakat yang kurang intelek dan menyuka berita-berita sensasional meski tak akurat bahkan fitnah. Ini pun strategi yang bodoh, semakin menguatkan dugaan bahwa Tempo memang tak menguasai data. Masyarakat penyuka berita sensasional tak terlalu hirau pada berita politik. Lebih memilih membaca dan mengakses berita perselingkuhan dan kawin cerai selebriti. Makin terbukti mengapa Tempo kian kolaps.

Dari semua hal tersebut, Tempo makin krisis karena telah kehilangan integritasnya. Tanggung jawab sosialnya. Kesadaran bahwa berita yang disajikan seyogyanya mengemban tugas untuk tidak menjerumuskan pembacanya dalam situasi-situasi buruk. Mulai dari melakukan pengambilan keputusan yang salah, sampai dengan perpecahan masyarakat yang bisa berujung perpecahan bangsa. Sekali lagi, seperti diulas di atas, Bangsa Indonesia mungkin tak semuanya menyuka membaca berita-berita politis, tetapi secara umum bangsa Indonesia memiliki kepekaan intuitif untuk tidak memilih media-media yang terlalu ekstrem ataupun yang tak dapat dipercaya. Tempo telah sukses menodai kepercayaan masyarakat tersebut, dan telah membuat masyarakat sukses meninggalkannya beramai-ramai. Bagi Tempo, senja telah tiba dan tak dapat dihambat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed