by

Syech Itu Juga Manusia Biasa Ternyata

Oleh : Agung Wibawanto

Sekali lagi, hidup itu misteri. Kita tidak pernah tahu yang akan terjadi sehari, sejam bahkan semenit waktu di depan kita. Saya tidak pernah menyangka akan melewati momen bertemu, berkenalan bahkan “bergojek” banyak hal dengan seseorang yang sama sekali saya tidak pernah tahu sebelumnya. Jangankan merencanakan, bahkan membayangkannya pun tidak. Pasti kalian juga pernah mengalami hal yang sama. Berawal dari sebuah ajakan Bu Nyai Retna Dwi Estuningtyas untuk bertandang ke rumah seseorang. Begitupun dengan yang mengajak, meski sudah tahu tapi belum pernah bertemu sebelumnya dengan sosok ini, apalagi dengan saya? Cukup “merepotkan” juga mencarinya.

Usai acara di Bekasi, sudah memperkirakan sebuah lokasi yang jauh, tapi ternyata masih satu wilayah di Pondok Gede. Awal yang aneh bukan? Begitu juga dengan kisah selanjutnya. Pada akhirnya, kami sampai ke sebuah ujung perumahan (jalan buntu) yang tadinya ragu untuk dilewati, gelap dan tidak terlihat ada kehidupan! Wow. Ya, mirip-mirip dengan kata Edi Mulyadi seperti tempat “jin buang anak” (ngapunten Syech, tidak bermaksud merendahkan, tapi memang sepertinya begitu, hehehe…). Meski demikian, bangunan yang ternyata berpenghuni tersebut tampak terang di dalamnya.Memasuki ruang tamu dengan model lesehan (tanpa perabotan furniture, hanya ada satu kursi sofa) ala ala middle east gitu lah.

Ada hamparan karpet berikut alas duduknya. Di tengah-tengahnya pun sudah tersedia minuman gelas air mineral. Menunjukkan tempat ini memang sering dikunjungi tamu maupun musafir yang mungkin singgah karena kehausan. Dan benar saja. Tuan rumah dari tempat tersebut ternyata bukanlah orang yang sembarangan. Konon, kini beliau adalah seorang guru besar (bukan hanya mahaguru). Sudah banyak orang yang datang khusus ingin bertemu kepada beliau dengan segala keperluannya. Mulai dari yang ingin wawancara, sampai ingin didoakan agar mendapat berkah. Tetamu biasanya akan curhat, konsultasi ataupun berkhitmad takjim duduk anteng di bawah mendengarkan segala nasehat dan ucapan beliau yang duduk di kursi (tidak berbantah).

Ya, setidaknya begitulah dalam pandangan saya yang awam, meski mungkin beliau sendiri tidak merasa sebagai siapa-siapa (itu yang dikatakannya). Beliau dipanggil Syech ataupun Maulana yang artinya ya semacam guru terutama di bidang agama. Ada tiga orang yang sangat santun menyambut kami mempersilahkan duduk. Mereka juga tentu belum mengenal siapa kami dan apa tujuan kami berkunjung. Mas-mase yang ternyata diketahui sebagai santri tersebut hanya mengatakan Syech sedang keluar. Tidak perlu menunggu lama, orang yang kami tunggu akhirnya tiba. Sosok dengan tubuh gempal besar mengenakan jaket Banser berikut topi kupluk melengkapi kesangarannya, apalagi dengan asesoris rambut yang panjang tergerai serta janggut yang menjuntai. Inikah seorang syech? Lebih mirip preman Tanah Abang yang baik hati, menurut saya (sekali lagi ngapunten syech).

Entah siapa yang memulai, Nyai Retna dan Syech mulai larut dan terlibat dalam obrolan santai penuh keakraban, sementara saya menyimak. Syech duduk lesehan di bawah, sama dengan tamu dan santrinya. Uniknya lagi, ada banyak hal yang tersirat (pesan) ketimbang yang tersurat dari setiap obrolan, namun kadang bukan tidak sering kami saling blak-blakan. Ya, apa adanya saja. Dialog yang kadang membuat ketiga santri merubah raut wajahnya seperti bingung. Begitulah, toh sepertinya kami se frekuensi, sama-sama menempatkan dan memposisikan diri sebagai orang yang bukan siapa-siapa, orang yang gak penting-penting amat dan orang yang bodoh (mengosongkan diri).Ya, beliau mengatakan bahwa jika kita mengaku sebagai orang bodoh, maka insyallah kita tidak akan merasa sok tahu segalanya (menggurui). Bahkan kita bisa menyerap ilmu orang lain. Ini nih, sudah terlihat gaya-gaya sufi yang saya senangi dari orang ini.

Maaf, beliau bernama Fahd Muhammad, mengaku orang Kalimantan yang telah lama menggeluti ‘perang bathin’ dan pemikirannya mencari Tuhannya. Setelah sempat tidak mengakui adanya Tuhan, kini ia telah mencapai kenikmatan merasakan hadirnya Tuhan di dalam dirinya. Pengakuannya itu jangan juga diartikan bahwa dirinya Tuhan. Semakin mendekatkan diri kepadaNya maka akan semakin merasakan hadirNya (sabdanya). Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya ingin mengabdi dan melayani Tuhan (Allah SWT), begitu ujarnya. Namun di dunia ini ya kita harus melayani sesama. Bagaimana kita bisa menyenangkan, menebarkan cinta dan berlaku manfaat bagi orang lain. Itu tugas kita, tentu mungkin dengan cara dan posisi serta kompetensi masing-masing. Perbincangan agak ‘kacau’ karena tidak sistematis dan gak tertib (gak pake moderator, mengalir bebas saja).

Kadang ngalor, sering pula ngidul, tiba-tiba balik meneh ngulon begitu seterusnya gak beraturan. Sesekali saya mulai nyeletuk dan berkomentar. Aneh lainnya, selama 10 tahun tidak pernah membahas terkait hobinya memotret, dan “dilalah” kok sehari sebelum ketemu, beliau mengaku sempat membuka kamera Fuji nya, membersihkan dan juga melihat-lihat laptop. Adakah ini firasat kangen motret? Lha kok saat ketemu membahas pula soal photography dengan penuh antusias. Hingga akhirnya sepakat akan hunting bareng kapan-kapan pasca pandemi usai. Pertemuan ini justru menjadi sebuah obrolan yang jujur tanpa tedeng aling-aling, tanpa basa-basi, tanpa sekat-sekat yang kadang digunakan orang-orang untuk membatasi bahkan menutupi dirinya dari pandangan orang lain (topeng). Sementara obrolan ini apa adanya saja bergulir.

Benar-benar terasa cair dan tidak berbobot layaknya diskusi atau seminar akademik. Sangat berbeda pula bincang antar ahli kitab maupun ahli ibadah yang melulu bahas dalil dan amalan. Bahkan sesekali kami memprovokasi santri-santrinya untuk out of the box, tidak mikir amalan terus (untuk kesekian saya mohon maaf syech). Karomah setiap orang mungkin berbeda-beda dan itu akan ditemukan nanti setelah adanya proses “pendalaman” yang berbeda-beda pula. Yang terpenting, selalu taat dan patuh apapun yang dikatakan sang guru. Tidak akan ada kegaduhan jika mematuhi.Terlalu banyak kesederhanaan ataupun hal yang biasa jika saya amati lebih jauh dari sosok yang satu ini. Pada awalnya, kesimpulan itu saya ambil dengan berat hati sebetulnya, hingga kami diajak menikmati hidangan malam bersama. Di meja tersaji lontong dan nasi dengan lauk sate dan sop buntut.

Siapa yang berani menolak tawaran yang sangat memaksa itu? Inilah berkah nan shohih, tidak ghoib. Tidak cukup sampai di situ, sosok syech ini mengambil gitarnya (sekonyong-konyong koder) lalu memetiknya. Terdengar dentingan satu dua nada yang lalu diiringi syair “sugih tanpo bondo…” (memang kami tengah membahas topik itu). Dia larut dalam petikan gitarnya lalu kami pun bernyanyi bersama. Sudah seperti trio live performance yang tengah ngamen: asyik, syahdu dan damai. Di akhirnya, syech mengajak kami untuk berdoa demi keselamatan bersama agar terus menebar virus-virus cinta antar sesama. Kurang apa lagi? Sudah terbukti Syech Fadh memang hanya manusia biasa yang bisa tertawa lepas dan minum kopi dengan nikmat.

Terima kasih syech atas keramahan dan kesederhanaan yang diajarkan. Sikap keteladanan adalah materi pembelajaran yang langka di tengah umat yang belajar agama hanya melalui Chanel YouTube sekarang ini. Tidak terasa sudah jam 12 malam. Jika saja tidak mengingat komplek perumahan ini merupakan basis fekaes and the gank dan selalu diawasi, sudah pasti kami ingin berlama-lama bahkan menginap (sesuai penawaran tuan rumah yang baik). Tapi kami memutuskan untuk pamit karena waktunya kami berubah… Eh, maksud saya kembali.

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed