Syaikh Ali Jaber, Mata Air Kejernihan Islam

Dari pengamatan saya, pertama beliau bisa berlaku adil tanpa terkecuali tanpa pandang bulu ke siapapun yang berinteraksi dengannya. Beliau pun bisa adil dalam bersikap dan tidak berat sebelah, kepada perempuan yang melepas jilbab ia bersikap sejuk mengajak untuk tidak menghakimi. Kepada pembunuhan 6 laskar FPI, beliau bisa bersikap sangat tegas bahkan marah bahwa tak semestinya darah kaum muslimin dengan mudahnya tertumpah.
Dari sikap yang adil dan perlakuan baik tanpa terkecuali itu, setiap entitas merasa Syekh Ali Jabir berpihak padanya tanpa perlu membenturkan beliau dengan kutub yang berbeda.
Kedua, Syekh Ali Jabir adalah mata air yang jernih. Kalau kita bicara tasawuf, tazkiyatun nafs masih dalam tataran kajian, amalan hati seorang Syekh Ali Jabir nampak gamblang tanpa perlu men-dalil-i atau mengulas tentang akhlak terlalu panjang. Kita menyaksikan betapa jernih beliau yang tidak marah bahkan kepada orang yang menusuknya dan reflek ketika itu juga membela dan meminta masyarakat tidak main hakim sendiri. Kita juga menyaksikan betapa Syaikh Ali Jabir berhati-hati sekali dalam berbicara. Sepengematan saya hampir tidak pernah beliau bicara tendensius menjelekkan kalangan tertentu atau bahkan sekadar bicara dengan nada sinis. Namun pesan-pesannya menghujam sampai ke hati. Tuturnya terasa jernih, akhlak mulia yang muncul dari hati yang bersih itu bisa kita rasakan.
Jika Syaikh Muhammad Abduh pernah menyatakan bahwa Islam tertutupi oleh perilaku umat Islam. Syaikh Ali Jabir adalah salah satu yang menjernihkannya, sehingga dari lisan dan perilakunya Islam begitu universal bisa diterima semua kalangan. Pesan-pesan Islam dari beliau tak terdistorsi, jelas dan jernih sehingga tak ada yang menginterupsi, bahkan sampai ke hati jiwa-jiwa yang menjauh dari agamanya dan merindukan Tuhannya.
Dari mana semua tutur dan akhlak mulia itu muncul? tentu saja itu terjadi karena beliau hidup untuk al-Qur’an. Sebagaimana Nabi yang al-Qur’an termanifestasi dalam akhlak. Pun demikian seorang Syaikh Ali Jabir, seorang ahlul Qur’an dari Kota Sang Nabi memahami al-Qur’an tak hanya pengajaran teori dan ketepatan metode membaca semata, namun pengamalan dalam akhlak yang mulia.
Sekarang ke mana lagi jiwa-jiwa kami yang kotor, lusuh lagi ternoda, yang biasa memilah dan memilih da’i sesuai selera, yang meletakkan kadar keimanan seseorang dari dukungan politiknya, yang tak terbiasa adil kepada mereka yang berbeda, harus mencari mata air yang jernih?
Beliau telah husnul khotimah menepati janji bertemu Rabbnya, sementara kita kebingungan mencari siapa lagi pengganti beliau yang bisa mengikat umat yang tercerai-berai ini.
 
Sumber : Status Facebook Ahmad Jilul Qur’ani Farid

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *